Meruwat Negara dengan Doa Lintas-Agama — Cara Rakyat Indonesia Mendukung Presiden Menuju Mercusuar Perdamaian Dunia

Acara Ruwatan Negara merupakan doa bersama lintas-agama, demi kedamaian Indonesia Raya. | FOTO: Dok. Panitia Ruwatan Negara
Pada 18 Agustus 2025 mendatang, Indonesia bakal menyaksikan sebuah peristiwa langka namun sangat bermakna: Ruwatan Negara Menyongsong Indonesia Sebagai Mercusuar Perdamaian Dunia.

__________

Di tengah hiruk-pikuk politik, krisis global, dan ancaman perang dunia, sekelompok tokoh agama, budayawan, dan pemimpin komunitas dari berbagai pelosok negeri memutuskan tak tinggal diam. 

Mereka mengajak seluruh bangsa untuk merenung, berdoa, dan bersatu dalam ikhtiar spiritual yang disebut “ruwatan”—membersihkan energi buruk bangsa demi masa depan yang lebih terang.

Bacaan Lainnya

“Kami sowan ke para sesepuh, ulama, tokoh adat, dan budayawan dari berbagai daerah. Alhamdulillah, semua mendukung dan mendoakan,” ujar Ari Hakim, panitia nasional Ruwatan Negara, dikutip Ahad, 20 Juli 2025.

Menurut Ari, beberapa tokoh telah menyatakan dukungan. Mereka, antara lain, Ida Resi Pandita Agung Nata Siliwangi (Sunda), I Dewa Nyoman S. Hartana (Bali), Dahlan Iskan (Surabaya), Ki Nur Padunata (Mojokerto), Mbah Selo (Kediri), Mbah Jolo (Malang), Pinandita Darwadi (Blitar), Kiai Fiyatno (Bengkulu Tengah), dan Haji Marwan (Kota Bengkulu).

Dukungan banyak tokoh mengalir untuk acara Ruwatan Negara di Ndalem Pojok, Kediri, pada 18 Agustus 2025. Salah satunya dari tokoh pers nasional, Dahlan Iskan. | FOTO: Dok. Panitia Ruwatan Negara

Tak hanya tokoh agama dan budaya, organisasi lintas-daerah juga menyatakan dukungannya secara penuh. Ketua DPD Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) Indonesia Jawa Timur, Puryono, bahkan menyebut siap menggerakkan seluruh jaringan di tingkat kota dan kabupaten untuk hadir secara langsung.

Bukan Sekadar Tradisi, Ini Tentang Arah Bangsa

Ruwatan, dalam tradisi Jawa, bukan hal baru. Tapi Ruwatan Negara? Ini adalah bentuk spiritualitas kolektif yang jarang terjadi. 

Sebuah prosesi untuk menyucikan bangsa, bukan individu. Membersihkan beban sejarah, luka sosial, dan energi negatif yang menghalangi Indonesia menjadi bangsa besar yang damai, bermartabat, dan dihormati dunia.

“Kami berkeyakinan, Indonesia bisa menjadi mercusuar perdamaian dunia. Seperti mercusuar yang menuntun kapal di malam gelap, bangsa ini bisa menuntun dunia menuju cahaya,” ujar Kuswatono dari Situs Persada Soekarno, Kediri.

Ruwatan dan Ancaman Perang Dunia

Di dalam surat resmi yang dikirim ke Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Sekretariat Negara, panitia menekankan alasan yang sangat mendesak: dunia sedang berada di tepi jurang.

Ancaman perang global, bahkan konflik nuklir, bukan lagi dongeng. 

Salah satu panitia Ruwatan Negara, R.M. Kuswartono, menyerahkan surat pemberitahuan acara ini kepada Presiden Prabowo Subianto melalui Kesekretariatan Presiden pada Selasa, 15 Juli 2025. | FOTO: Dok. Panitia Ruwatan Negara

Beberapa kali Presiden Prabowo sendiri telah menyampaikan sinyal bahwa Indonesia harus bersiap menghadapi gejolak dunia. Posisi geografis Indonesia yang berada di jalur strategis global menjadikan kita rentan… namun sekaligus berpeluang menjadi penjaga perdamaian dunia.

Ruwatan ini, menurut panitia, adalah bentuk dukungan moral dan spiritual kepada Presiden agar dapat membawa Indonesia menjadi kekuatan damai yang aktif, sebagaimana semangat Konferensi Asia-Afrika 1955 dan Gerakan Non-Blok yang dulu digagas oleh Bung Karno.

“Kami mohon restu Presiden Prabowo, karena ini bukan sekadar acara, melainkan ikhtiar batin seluruh rakyat Indonesia untuk mendukung kepemimpinan beliau dalam membawa negeri ini menuju kedamaian dunia,” tegas I Dewa Nyoman S. Hartana, Ketua Umum PCTA Indonesia.

Agenda Ruwatan Negara 18 Agustus 2025

Kegiatan ini akan berlangsung dengan semangat gotong royong dan lintas iman. Beberapa rangkaian acaranya meliputi:

  • Kirab Budaya Nusantara
  • Ujub Donga dan Doa Lintas Agama
  • Sarasehan Kebangsaan
  • Upacara Ruwatan Nasional
  • Pentas Seni dan Refleksi Spiritual

Setiap elemen kegiatan dirancang untuk menyatukan kekuatan batin rakyat dari Aceh sampai Papua, dari gunung-gunung di Sunda hingga laut-laut di Maluku.

Panitia mengajak seluruh rakyat Indonesia—apapun suku, agama, dan latar belakangnya—untuk ikut serta dalam Ruwatan Negara 18 Agustus. Ini bukan hanya milik para tokoh. Ini adalah panggilan nurani setiap anak bangsa.

Mari kita tunjukkan kepada dunia: Indonesia adalah bangsa spiritual, bukan hanya strategis. Bangsa yang bersujud dulu sebelum melangkah jauh.

Bersama kita ruwat bangsa. Bersama kita jaga dunia.***

Pos terkait