Mantan PM Qatar peringatkan negara Arab: Perang lawan Iran hanya jadikan Timur Tengah pion AS dan suburkan proyek Israel Raya.
Ketegangan di Timur Tengah sering kali memancing berbagai spekulasi dan narasi perang. Mantan PM Qatar, Hamad bin Jassim, memberi peringatan tajam tentang siapa pemenang sebenarnya jika negara Arab berperang dengan Iran.
Hamad bin Jassim secara blak-blakan membongkar skenario yang mungkin terjadi jika konflik terbuka dengan Iran benar-benar meletus. Ia menilai bahwa langkah tersebut bukanlah sebuah pembelaan bagi dunia Arab, melainkan sebuah jebakan geopolitik yang sangat merugikan.
Ia menegaskan bahwa pihak luar hanya akan menjadikan negara Arab sebagai sapi perah di tengah konflik berdarah.
”Begitu kita menyatakan perang terhadap Iran, Amerika akan menarik diri dari konflik, menjual senjata kepada kedua belah pihak, dan menggunakan sumber daya kita untuk mengalahkan kedua belah pihak dan memperluas proyek Israel Raya,” tegas Hamad bin Jassim, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (10/3/2-26).
Pernyataan ini mengungkap bagaimana negara adidaya meraup untung dan memperkuat sekutunya dari kehancuran kawasan.
Saatnya Pemimpin Arab Menjadi Pemain Catur Geopolitik
Narasi yang Hamad bangun menyiratkan sebuah kritik sekaligus tantangan bagi para pemimpin Arab. Sudah saatnya elite Timur Tengah mengubah pola pikir mereka secara radikal. Mereka harus naik level dari sekadar mengandalkan instrumen emosional ala Badui menjadi pemain catur geopolitik yang canggih dan disegani dunia.
Dengan demikian, visi strategis akan mencegah pemimpin terprovokasi agenda asing yang sengaja melemahkan persatuan Islam dan Arab melalui adu domba.
Mengkaji Ulang Keberadaan Pangkalan Asing
Transformasi pemikiran ini nantinya akan memicu kesadaran kritis bagi para pemimpin Arab untuk melihat fakta secara lebih objektif. Hasilnya, mereka akan menyadari bahwa pangkalan militer AS di Timur Tengah bukanlah jaminan keamanan bagi negara tuan rumah.
Sebaliknya, pangkalan-pangkalan tersebut justru menjadi sumber ketidakamanan, memicu ketegangan regional, dan berpotensi menyeret negara Arab ke dalam pusaran konflik yang bukan milik mereka.





