Harga Minyak Tembus 109 Dolar, Rupiah Terperosok Imbas Perang Iran-AS

Rudal dan drone Iran menghantam pangkalan AS di kawasan Teluk. Eskalasi konflik memicu lonjakan harga minyak dunia di atas USD100 per barel dan mengguncang pasar keuangan global. - Ilustrasi/AI Generate
Eskalasi konflik Iran-AS memicu harga minyak WTI melonjak 20,81 persen ke 109,82 dolar AS per barel.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melancarkan gelombang ke-30 Operasi Janji Sejati-4 dengan nama sandi “Ali Wali Allah” pada Minggu (8/3/2026) malam. Serangan menargetkan pangkalan militer AS di Irak, Qatar, dan Kuwait, serta wilayah utara Israel menggunakan rudal balistik Khorramshahr, Fattah, Kheibar, dan drone strategis.

Setelah serangan itu, pada Senin (9/3)  pukul 07.50 WIB, harga minyak mentah jenis WTI melonjak 20,81 persen menjadi 109,82 dolar AS per barel. Minyak Brent naik 18,17 persen ke 109,53 dolar AS per barel. 

Kenaikan ini dipicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global menyusul meluasnya konflik di kawasan Teluk, termasuk ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.

Bacaan Lainnya

Iran mengklaim serangan gelombang ke-30 mencapai keberhasilan 100 persen. 

“Bersamaan dengan pemilihan Pemimpin Tertinggi baru, Mojtaba Khamenei, gelombang ke-30 Operasi Janji Sejati 4 dilakukan dengan keberhasilan 100 persen menargetkan pangkalan teroris AS di kawasan serta posisi rezim Israel,” demikian pernyataan resmi IRGC.

Rupiah Terperosok, IHSG Terkoreksi

Di pasar domestik, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 76 poin atau 0,45 persen ke level Rp17.001 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi. Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu sentimen penghindaran risiko (risk off) akibat lonjakan harga minyak.

“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS oleh sentimen risk off yang memburuk, dipicu kenaikan harga minyak mentah yang melewati USD100 per barel—yang dikhawatirkan akan berdampak besar pada perekonomian global dan inflasi,” ujar Lukman .

Pada penutupan perdagangan Senin (9/3), rupiah melemah 24 poin atau 0,14 persen ke level Rp16.949 per USD. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai lonjakan harga minyak berpotensi memberikan tekanan serius terhadap fiskal Indonesia.

Harga minyak dunia sudah menyentuh angka USD92 per barel, jauh melampaui asumsi makro APBN 2026 yang hanya mematok harga di kisaran USD70 per barel. 

“Apabila harga minyak terus meroket hingga mendekati atau bahkan melampaui 100 dolar AS per barel, dampaknya bakal fatal bagi fiskal nasional. Defisit APBN terhadap PDB bisa terdongkrak hingga mendekati 4 persen,” ujar Ibrahim .

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi 211,38 poin atau 2,79 persen ke posisi 7.374,31, mengikuti pelemahan bursa kawasan Asia. Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengingatkan volatilitas masih akan tinggi sepekan ini dengan risiko konsolidasi lanjutan.

“Lonjakan harga energi meningkatkan risiko inflasi global serta dapat menekan pertumbuhan ekonomi melalui kenaikan harga bahan bakar dan biaya produksi. Beberapa produsen energi Timur Tengah mulai mengurangi produksi akibat gangguan rantai pasokan,” ujar Liza .

Eskalasi Pasca-Pelantikan Mojtaba

Konflik ini dipicu serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sedikitnya 201 orang di 24 provinsi Iran. Majelis Pakar Iran kemudian melantik putra almarhum, Mojtaba Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi baru pada 8 Maret 2026.

Pelantikan Mojtaba mendapat dukungan penuh dari IRGC—yang berjanji untuk setia. IRGC juga mendedikasikan gelombang serangan ke-31 pada Senin (9/3) untuk pemimpin baru mereka dengan kode “Labbaik Ya Khamenei” menggunakan rudal Khorramshahr-4, yang berhulu ledak lebih dari satu ton .

Rudal Khorramshahr-4 memiliki jarak jangkau hingga 2.000 kilometer dengan kecepatan hipersonik Mach 16 di luar atmosfer dan Mach 8 saat kembali masuk. Teknologi manuver (MaRV) membuatnya sulit dilacak sistem pertahanan musuh.

Dampak Regional Meluas

Konflik meluas ke sejumlah negara Teluk. Arab Saudi melaporkan sistem pertahanan udaranya memintas drone yang menargetkan ladang minyak Shaybah. Satu projektil juga mengenai fasilitas kediaman di Wilayah Al-Kharj, menewaskan dua penduduk dan melukai 12 lainnya.

Bahrain mencatat 32 warga sipil terluka dalam serangan drone, termasuk anak-anak yang membutuhkan pembedahan. Uni Emirat Arab juga melaporkan sistem pertahanan udaranya merespons ancaman rudal dan drone yang dilancarkan dari Iran.

Di Lebanon, sedikitnya 26 orang tewas dan 33 lainnya luka-luka dalam serangan udara Israel di wilayah selatan dan timur. Produksi minyak Irak dilaporkan turun hampir 60 persen menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari setelah ekspor terhenti akibat penutupan Selat Hormuz dan serangan infrastruktur energi.***

Pos terkait