PMI manufaktur Indonesia turun menjadi 49,8 pada Agustus 2026. Produksi dan tenaga kerja melemah ketika permintaan perangkat AI menggerakkan pabrik sejumlah negara Asia.
Aktivitas manufaktur Indonesia kembali terkontraksi pada Agustus 2026 setelah hanya sebulan berada di zona ekspansi.
Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun dari 50,2 pada Juli menjadi 49,8. Indeks di bawah 50 menunjukkan kondisi industri memburuk dibanding bulan sebelumnya.
Penurunan tersebut terutama dipengaruhi melemahnya produksi dan tenaga kerja. Kedua indikator itu tercatat turun dalam lima dari enam periode survei terakhir.
Produsen mengaitkan penurunan produksi dengan persaingan yang meningkat, permintaan yang lesu, dan harga barang yang lebih tinggi. Sebagian perusahaan mengurangi pekerja, sedangkan lainnya kesulitan mempertahankan pegawai karena pengunduran diri.
Hasil Agustus memutus pemulihan yang baru muncul pada Juli. Ketika itu, PMI Indonesia naik dari 46,9 pada Juni menjadi 50,2 dan produksi tumbuh untuk pertama kalinya sejak Februari.
Indonesia Tertinggal dari Negara Produsen Teknologi
Kontraksi di Indonesia terjadi ketika permintaan semikonduktor, komputer, dan perangkat kecerdasan artifisial mendorong ekspansi manufaktur di sejumlah negara Asia.
PMI manufaktur Jepang naik dari 54,5 menjadi 54,9. Pesanan baru tumbuh paling cepat sejak Januari 2018, antara lain karena permintaan produk semikonduktor dan perangkat terkait kecerdasan artifisial.
“Secara keseluruhan, sektor ini berada pada posisi yang baik untuk mempertahankan kinerja kuatnya, terutama karena permintaan yang berkaitan dengan sektor AI,” kata Direktur Madya Ekonomi S&P Global Market Intelligence Annabel Fiddes.
Korea Selatan mempertahankan ekspansi selama sembilan bulan berturut-turut meski PMI-nya turun dari 53,1 menjadi 52,3. Ekspor negara tersebut melonjak 68,7 persen dibanding Agustus tahun lalu.
Ekonom S&P Global Market Intelligence David Owen menilai pertumbuhan permintaan ekspor menunjukkan perusahaan masih menikmati siklus kenaikan kecerdasan artifisial dan semikonduktor.
Taiwan juga mencatat PMI 54,7, sementara Filipina melonjak dari 51,8 menjadi 54,9. Sebaliknya, Indonesia menjadi salah satu negara di kawasan yang kembali masuk zona kontraksi.
China menunjukkan pemulihan yang belum merata. Survei swasta mencatat PMI naik dari 50,9 menjadi 51,5, tetapi indeks resmi pemerintah masih berada di zona kontraksi.
Ekspor Indonesia Masih Bertumpu pada Komoditas
Perbandingan tersebut tidak serta-merta membuktikan bahwa struktur ekspor menjadi penyebab kontraksi bulanan Indonesia. Namun, komposisi industri menentukan besarnya manfaat yang diperoleh suatu negara dari lonjakan permintaan perangkat teknologi.
Kajian S&P Global Market Intelligence pada Agustus 2026 mencatat makanan, energi, serta bijih dan produk logam menyumbang 54,1 persen ekspor Indonesia. Otomotif dan mesin hanya mengambil porsi 11,6 persen.
Indonesia memiliki keunggulan berupa rata-rata biaya tenaga kerja manufaktur sekitar USD1,4 per jam. Namun, kekurangan pekerja terampil, ketidakpastian kebijakan, dan risiko hubungan industrial masih mengurangi daya tariknya sebagai pusat produksi regional.
S&P Global memperkirakan permintaan domestik dan sektor berbasis komoditas masih menjadi penggerak utama dalam waktu dekat. Industri elektronik diproyeksikan baru memperoleh momentum lebih besar pada 2027 dan 2028.
Risiko biaya juga belum mereda. Harga minyak Brent mencapai USD91,05 per barel pada perdagangan Selasa, 1 September 2026, setelah pertempuran Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan pelayaran di Selat Hormuz.
Di tengah penurunan produksi, keyakinan perusahaan manufaktur Indonesia justru mencapai level tertinggi dalam tujuh bulan. Produsen berharap permintaan yang lebih kuat dan kondisi pasar yang stabil dapat menopang produksi selama 12 bulan mendatang.***





