Iran Buka Selat Hormuz dengan Syarat Tegas: Usir Dubes AS-Israel

Peta Selat Hormuz. -- SS PRESS TV
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menawarkan akses Selat Hormuz bagi negara yang bersedia mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel.

Dalam pengumuman resmi yang ditayangkan televisi pemerintah Iran, IRIB, pada Senin (9/3/2026) malam, IRGC menyatakan bahwa negara-negara Arab maupun Eropa yang memenuhi syarat tersebut akan mendapatkan “kebebasan penuh dan hak untuk melewati Selat Hormuz mulai besok”.

Pernyataan ini muncul setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang kemudian dibalas Teheran dengan gelombang serangan rudal dan drone ke target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.

Meski menawarkan akses bersyarat, juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menegaskan sikap keras militernya. 

Bacaan Lainnya

“Angkatan Bersenjata Iran… tidak akan mengizinkan ekspor satu liter pun minyak dari kawasan ke pihak musuh dan sekutu-sekutunya hingga pemberitahuan lebih lanjut,” tegas Naini dalam pernyataan yang dikutip kantor berita Tasnim, Selasa (10/3/2026).

Dampak Lumpuhnya Jalur Vital Dunia

Penutupan Selat Hormuz sejak pecahnya konflik pada 28 Februari telah menciptakan guncangan dahsyat pada pasar energi global. Selat yang membentang antara Iran dan Oman ini merupakan jalur perairan paling strategis di dunia, biasanya menangani sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair (LNG) global.

Menurut perusahaan analisis Kpler yang mengoperasikan platform MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di sana menurun drastis hingga 90 persen dalam sepekan terakhir. Akibatnya, harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi sejak pertengahan 2022, mendekati USD120 per barel .

Gangguan tidak hanya terjadi pada distribusi, tetapi juga produksi. Arab Saudi melalui Saudi Aramco mulai memangkas produksi dua ladang minyaknya. Kuwait Petroleum Corporation dilaporkan mengurangi produksi dan menetapkan kondisi force majeure pada pengiriman. Qatar bahkan menghentikan produksi LNG di fasilitas ekspor Ras Laffan setelah serangan drone.

Pos terkait