Makna Ketupat Lebaran: Jejak Sunan Kalijaga dan Filosofi “Ngaku Lepat”

Ilustrasi makan ketupat. - AI Generate

Ketupat dibuat dari anyaman daun kelapa muda atau janur. Jika diperhatikan, anyamannya terlihat cukup rumit dan saling bertaut. Dalam filosofi Jawa, bentuk anyaman ini sering dimaknai sebagai gambaran kesalahan manusia yang berlapis-lapis dalam kehidupan.

Namun, ada makna menarik ketika ketupat dibelah. Di dalamnya, nasi terlihat putih dan bersih. Hal ini sering diartikan sebagai simbol hati yang kembali suci setelah seseorang saling meminta dan memberi maaf.

Konsep “Laku Papat” dalam Ketupat

Dirangkum dari NU Online, Sunan Kalijaga juga mengaitkan ketupat dengan sebuah konsep dalam budaya Jawa yang dikenal sebagai laku papat, yaitu empat sikap atau perjalanan hidup yang menjadi pengingat dalam kehidupan spiritual.

Bacaan Lainnya

Yang pertama adalah lebo. Maknanya adalah kesadaran bahwa sebagai manusia, kita pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Entah disadari atau tidak, kita bisa saja berbuat khilaf kepada orang lain.

Yang kedua adalah luber. Ini berkaitan dengan sikap murah hati. Setelah menjalani Ramadan, diharapkan umat Muslim menjadi pribadi yang lebih ringan tangan untuk berbagi.

Ini termasuk berbagi rezeki, perhatian, maupun memaafkan kesalahan orang lain. Dalam pandangan masyarakat Jawa, rezeki yang kita terima bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk dibagikan kepada orang lain.

Lalu yang ketiga adalah lebar. Maknanya mengingatkan bahwa meskipun Ramadan telah berakhir, nilai-nilai yang dipelajari selama bulan puasa seharusnya tidak ikut berakhir. Sikap sabar, kemampuan menahan diri, serta kepedulian terhadap sesama sebaiknya tetap dibawa dalam kehidupan sehari-hari.

Terakhir adalah labur. Ini menggambarkan keadaan hati yang kembali bersih setelah seseorang saling meminta dan memberi maaf. Ibarat kain putih yang baru dilabur, hati diharapkan kembali suci. ***

Pos terkait