Lalu, bisakah orang mengingkari kodratnya? “Jawabnya, bisa,” kata Anwar Abbas. “Tetapi akibatnya sangat berbahaya, karena dia tidak hanya akan merugikan dirinya, juga akan bisa merugikan dan merusak kehidupan orang banyak,” tambah Anwar.
Sebagai contoh, kata Anwar, penduduk bumi saat ini 8 miliar, separuh laki-laki dan separuh perempuan. “Kalau semua laki-laki kawin dengan sesama laki-laki dan semua perempuan kawin dengan sesama perempuan, maka sudah bisa di pastikan 150 tahun yang akan datang tidak akan ada seorang anak manusia pun yang hidup di muka bumi ini,” tuturnya.
“Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena akibat umat manusia telah menyalahi kodratnya. Jadi, kalau begitu LGBT tidaklah masuk ke dalam kategori ‘kodrat’, malah menentang dan bertentangan dengan kodrat,” sambungnya.
Oleh karena itu, lanjut dia, kehadiran LGBTQ di negeri ini harus ditolak. Tak ada negosiasi. “Dan dienyahkan dari hidup dan kehidupan kita, terutama di Indonesia. Karena sikap dan pandangan serta gaya hidup tersebut sudah jelas-jelas bertentangan dengan falsafah bangsa kita Pancasila dan UUD 1945,” tutupnya.
Hasil Penelitian LGBTQ
Sementara itu, peneliti Inggris pernah melakukan penelitian tentang LGBT dari sisi sains. Tim peneliti internasional itu dipimpin oleh ahli genetika Benjamin Neale dari Broad Institute di Cambridge, Massachusetts. Mereka melakukan penyelidikan genetika di balik perilaku seksual seseorang. Mereka menggunakan studi kesehatan jangka panjang bernama UK Biobank terhadap 500 ribu orang Inggris.
Tim peneliti juga berkonsultasi dengan kelompok advokasi LGBTQ. Mereka memeriksa penanda DNA dan data dari survei perilaku seksual yang diisi oleh hampir 409 ribu peserta Biobank Inggris dan sekitar 69 ribu pelanggan 23andMe, sebuah layanan pengujian konsumen. Seluruh koresponden tersebut keturunan Eropa.
Survei UK Biobank menanyakan: “Apakah Anda pernah melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis?”. Survei 23andMe juga menampilkan pertanyaan serupa.
Hasilnya, tim menemukan lima penanda genetik yang secara signifikan terkait dengan jawaban “ya” untuk pertanyaan tersebut. Dua penanda terdapat pada koresponden pria dan wanita, dua khusus untuk pria, dan satu hanya ditemukan pada wanita.
Salah satu varian genetik itu dekat dengan gen kebotakan laki-laki, yang menunjukkan ikatan dengan hormon seks seperti testosteron. Lainnya berada di area gen penciuman, yang dikaitkan dengan ketertarikan seksual.
Ketika para peneliti menggabungkan semua varian yang mereka ukur di seluruh genom, diperkirakan bahwa genetika dapat mempengaruhi sekitar 8-25 persen perilaku nonheteroseksual. Sisanya, kata mereka, adalah pengaruh dari lingkungan—bisa karena paparan hormon di dalam rahim, hingga pengaruh sosial di kemudian hari.





