Lontong Cap Go Meh: Jejak Cinta Jawa–Tionghoa

Lontong Cap Go Meh
Lontong Cap Go Meh. - Samudrafakta/Masruroh
Lontong Cap Go Meh pertama kali dikenal di wilayah pesisir Jawa lewat pernikahan kaum pribumi dengan pendatang (Tionghoa).

Cap Go Meh adalah akhir dari rangkaian perayaan tahun baru Imlek yang dilakukan tiap tanggal 15 pada bulan pertama penanggalan Tionghoa atau 2 minggu setelah tahun baru Imlek. Tahun ini perayaan Cap Go Meh jatuh pada hari Selasa 3 Meret 2026.

“Dalam perayaan Cap Go Meh biasanya dilengkapi dengan sajian Lontong Cap Go Meh yang merupakan masakan peranakan Tionghoa dan Jawa,” ujar Leo Nugroho, chef di Surabaya, seperti dikutip Minggu (1/3/2026).

Lontong Cap Go Meh pertama kali dikenal di wilayah pesisir Jawa lewat pernikahan kaum pribumi dengan pendatang (Tionghoa). Hal ini bermula pada abad ke-14 ketika imigran Tionghoa mulai memasuki tanah Jawa.

Bacaan Lainnya

Para imigran tersebut tidak diperbolehkan untuk datang bersama perempuan dari negaranya. Hal itulah yang membuat mereka menikahi perempuan Jawa. Percampuran itulah yang membuat hadirnya masakan Jawa saat perayaan Imlek.

Leo mengungkapkan, Lontong Cap Go Meh terkenal dengan kekayaan lauknya. Biasanya terdiri dari opor ayam, sayur lodeh, sayur rebung (tunas bambu muda), telur, bubuk koya, sambal goreng hati, dan kerupuk.

“Beberapa variasi bahkan menambahkan abon sapi atau acar,” imbuhnya.

Setiap isian tersebut terdapat makna tersendiri. Seperti lontong yang melambangkan umur panjang, telur dan kuahnya yang berwarna keemasan melambangkan keberuntungan. Adapun warna kuning keemasan dari kuahnya yang juga melambangkan dari kekayaan.

Tak hanya itu, warna merah pada sambal goreng juga melambangkan kesejahteraan. Sementara itu, ayam (yang dimasak opor) memiliki arti kerja keras yang disesuaikan dengan ayam itu sendiri yang dinilai pekerja keras dalam mencari makan. ***

Pos terkait