Teras Kebinekaan dan Paramadina Institute of Ethics and Civilization (PIEC) Universitas Paramadina memanfaatkan momentum bulan Ramadan kali ini untuk menyalakan konsep Islam Transformatif yang dicetuskan tiga cendekiawan Muhammadiyah, yakni Kuntowijoyo, Moesllim Abdurrahman, dan M. Dawam Raharjo. Semoga nyalanya tak mandek di ruang diskusi saja.
Inti konsep Islam Transformatif adalah, Islam wajib menyelesaikan pelbagai persoalan sosial dan kemanusiaan. Konsep tersebut dibedah dalam diskusi bertema “Tadarus Pemikiran Islam: Menghidupkan Pemikiran Islam Transformatif”, yang dihelat pada Kamis sore, 6 Maret 2025 lalu, di ruang Prof. Firmansyah, Universitas Paramadina, Jakarta.
Para pembicara dalam forum itu sepakat bahwa konsep Islam Transformatif itu menyentuh persoalan-persoalan dasar keagamaan, cara berpikir, dan bagaimana meletakkan visi ajaran agama Islam yang lebih emansipatoris tatkala berhubungan dengan fenomena ketidakadilan, kepincangan sosial, dan krisis kemanusiaan.
Ketua PIEC, Pipip Rifai, menilai, di tengah berbagai tantangan, seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan polarisasi identitas, gagasan-gagasan tiga tokoh Muhammadiyah tersebut dapat menjadi pedoman bagi para pembuat kebijakan, akademisi, dan aktivis dalam merumuskan solusi yang lebih berkelanjutan.
Sedangkan Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan, Moh. Shofan, menambahkan, dalam konteks masyarakat Indonesia yang makin kompleks, pemikiran tiga tokoh tersebut dinilainya menjadi sangat penting untuk dihidupkan kembali. Sebab, kata dia, ketiga tokoh itu menghadirkan perspektif yang berbeda, namun saling melengkapi dan mengokohkan.
“Mereka merupakan avant-garde Islam transformatif yang telah meletakkan dasar dalam rangka memahami dan mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat, terutama dalam aspek sosial, ekonomi, dan agama,” ujarnya kepada Samudra Fakta, dikutip pada Senin, 10 Maret 2025.
Fuad Fanani dan Aan Rukmana, dua narasumber sesi pertama diskusi, secara tersirat sepakat bahwa dalam lanskap pemikiran Islam Indonesia, ketiga tokoh yang menjadi objek kajian tersebut merupakan intelektual organik yang menawarkan visi baru tentang bagaimana Islam berinteraksi dengan masalah-masalah sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Buah pikir mereka dinilai tak hanya brilian karena ketajaman intelektual, tetapi juga ditopang dengan keberaniannya dalam menawarkan alternatif atas cara pandang tradisional dalam memahami agama di tengah dinamika sosial modern.
Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, berharap kajian ini bisa mendorong umat Islam agar memikirkan strategi dan aksi nyata di lapangan secara kolektif.
“Kita dapat memformulasikan sebuah paradigma baru yang tidak hanya mengedepankan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memihak kaum terpinggirkan, membumikan keadilan sosial, penguatan identitas, dan harmoni sosial,” kata Didik kala menyampaikan sambutan pada sesi pertama acara yang mengusung tema “Mengkaji Pemikiran Islam Transformatif Kuntowijoyo”.
Pembahasan dalam forum memang ini sangat berapi-api dan optimistis. Tinggal tunggu bagaimana konsep Islam Transformatif ini diaplikasikan secara nyata. Semoga tak mandek di ruang diskusi.***





