Pemudik dari Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Pulau Jawa harus memperhatikan jadwal yang telah diumumkan oleh PT ASDP. Pada Rabu, 29 Maret 2025, layanan penyeberangan Ketapang-Gilimanuk akan dihentikan sementara, sehubungan dengan perayaan Hari Raya Nyepi 2025.
Pemudik diminta menyiapkan jadwal alternatif agar tidak terjadi penumpukan di pelabuhan.
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menegaskan bahwa penutupan tersebut dilakukan untuk menghormati perayaan Nyepi, yang akan berdampak pada operasional lintasan Ketapang-Gilimanuk. Masyarakat pun diimbau untuk merencanakan perjalanan dengan bijak agar terhindar dari gangguan. “Kami telah berkoordinasi dengan semua pihak terkait untuk mempersiapkan strategi rekayasa lalu lintas, mengingat tahun ini perayaan Nyepi bertepatan dengan arus mudik Lebaran,” ujar Heru, seperti dikutip dari keterangan resmi ASDP pada Minggu, 9 Maret 2025.
Menanggapi potensi lonjakan kendaraan selama arus mudik, Kakorlantas Polri, Brigjen Agus Suryonugroho, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai skenario rekayasa lalu lintas. Ini bertujuan untuk mengatasi kepadatan di jalur utama, termasuk di kawasan pelabuhan, bandara, dan stasiun. “Kami akan merancang strategi terbaik seperti contraflow dan one way untuk mengurai kepadatan, terutama pada puncak arus mudik di H-2 dan H-3 Lebaran,” terang Agus.
Selain itu, pihak berwenang juga mempersiapkan skenario khusus untuk lintasan-lintasan utama seperti Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk, dengan kemungkinan penerapan buffer zone dan sistem penundaan jika terjadi kepadatan ekstrem. Kebijakan pemerintah yang mengatur libur sekolah mulai 21 Maret dan kebijakan work from anywhere (WFA) pada 24 Maret 2025 diharapkan dapat mendistribusikan arus mudik dengan lebih merata.
Kesiapan Pelabuhan Merak
Merujuk pada pola arus kendaraan selama tiga tahun terakhir, puncak kepadatan di Pelabuhan Merak diperkirakan terjadi pada H-5 hingga H-1 Lebaran. Waktu-waktu kritis, yakni antara pukul 20.00–02.00 dan 05.00–11.00, juga berpotensi menimbulkan kemacetan yang signifikan. Heru Widodo menjelaskan bahwa ASDP akan mengoptimalkan seluruh sumber daya untuk memastikan kelancaran operasional pada momen-momen tersebut.
Sebanyak 69 unit kapal siap beroperasi untuk melayani pemudik yang akan menyeberang dari Pelabuhan Merak, termasuk melalui pelabuhan perbantuan seperti Ciwandan dan BBJ Bojonegara. Bila terjadi lonjakan, strategi bongkar tanpa muat akan diterapkan untuk meningkatkan frekuensi perjalanan kapal.
Pelabuhan Indah Kiat juga akan difungsikan sebagai antisipasi jika Pelabuhan Merak mengalami kepadatan berlebih. Dengan kapasitas parkir mencapai 2.072 kendaraan kecil, pelabuhan ini siap menampung pemudik tambahan. Sebagai cadangan, buffer zone di Jalan Lingkar Selatan (JLS) akan digunakan sebagai kantong parkir tambahan jika Pelabuhan Ciwandan sudah mencapai kapasitas maksimum.
Sistem E-Ticketing untuk Kelancaran Perjalanan
ASDP mengingatkan masyarakat untuk memanfaatkan sistem e-ticketing Ferizy, yang tidak hanya akan membantu menghindari antrean, tetapi juga memastikan ketersediaan tiket. Tiket hanya dapat dibeli secara online, dengan pemesanan yang bisa dilakukan hingga H-60 sebelum keberangkatan. Dengan sistem ini, pemudik dapat merencanakan perjalanan dengan lebih baik, menghindari kepadatan, dan memastikan keberangkatan sesuai jadwal.
Heru Widodo menekankan pentingnya ketepatan waktu dalam mengikuti jadwal keberangkatan yang tertera pada tiket, guna menjaga keseimbangan arus kendaraan dan menghindari ketidakseimbangan di area pelabuhan. “Kami berharap dengan kepatuhan terhadap sistem yang ada, perjalanan mudik tahun ini dapat berjalan lebih lancar dan tertib,” pungkas Heru.***





