Juru bicara (Jubir) Presidium Penyelamat Organisasi dan Musyawarah Luar Biasa Nahdlatul Ulama (PPO dan MLB NU) Ahmad Syamsu Rizal mengaku prihatin mendengar Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU) Yahya Cholil Staquf meminta dilibatkan secara teknis dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Apa yang dilakukan PBNU dengan meminta dilibatkan dalam pekerjaan program makan bergizi gratis telah menempatkan NU setara dengan badan usaha pengadaan barang dan jasa,” kata Rizal, Sabtu, 4 Januari 2025.
Mantan Katib Syuriah PCNU Jombang itu juga mempertanyakan: apakah tidak ada cara lain untuk menjaga marwah NU sebagai organisasinya para ulama pondok pesantren?
“Gus Yahya, Ketum PBNU, dengan yakin mengatakan program itu akan dilaksanakan dengan koordinasi pemerintah bersama NU. Sungguh lucu,” katanya.
Sebelumnya, Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menyatakan ingin pihaknya dilibatkan dalam program MBG. Kata dia, PBNU punya UMKM untuk mengerjakan program itu.
“Kalau kami nanti bisa dilibatkan dalam program makan siang bergizi itu, nah, tentu kami ingin berkontribusi kalau memang ada ruang kontribusi di situ,” ujar Yahya dalam acara Ngopi Bareng Gus Yahya dengan Sahabat Media, di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat, 3 Januari 2025.
Yahya juga mengklaim bahwa pesantren-pesantren di bawah naungan PBNU telah dihubungi oleh pemerintah untuk menjadi lokasi pilot project program MBG. Katanya, program itu akan dilaksanakan dengan koordinasi pemerintah bersama NU.
Terkait pernyataan Yahya soal pesantren, Rizal menegaskan bahwa pesantren adalah entitas sosial budaya yang mandiri dan independen dalam pengelolaannya. Pesantren memiliki kewajiban membesarkan dan memajukan jam’iyyah NU.
“Pesantren adalah akar yang menghidupi sekaligus pemasok utama sumber daya manusia dan penjaga kepribadian NU. Jangan kerdilkan pesantren dengan klaim pesantren-pesantren milik PBNU. Ini klaim yang salah kaprah, karena pesantren berbadan hukum mandiri,” ujar Rizal.
Dia berkata, pesantren satu-satunya lembaga pendidikan yang secara tradisional teruji dalam penyediaan makan ribuan hingga puluhan ribu santri-pelajar setiap hari. Manajemen pesantren telah mapan dalam menanganinya, sudah puluhan tahun, melalui dapur pesantren atau santri.





