Serangan udara Israel merenggut nyawa Marwan Al-Sultan, direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, bersama keluarganya—tepat di kamar tidurnya. Tragedi ini melambangkan kehancuran total sistem kesehatan dan harapan kemanusiaan di wilayah yang porak-poranda.
__________
Hening malam di Gaza pecah oleh dentuman rudal. Pada Rabu dini hari, sebuah serangan udara menghantam rumah keluarga Al-Sultan. Tidak sembarangan—rudal itu menarget kamar tidur Marwan Al-Sultan, seorang dokter dan direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza.
“Persis di tempat dia berada, tepat mengarah kepadanya,” ujar Lubna, putri Al-Sultan, dengan suara bergetar—sebagaimana dikutip BBC News. Rumah itu nyaris utuh, kecuali satu kamar yang kini rata dengan tanah.
Al-Sultan bukan anggota milisi. Ia bukan pemegang senjata. Dia adalah ‘jantung’ dari satu-satunya rumah sakit Indonesia di Gaza yang masih bertahan hingga beberapa bulan lalu—sosok yang bertahan di tengah kehancuran, yang tetap merawat pasien ketika udara dipenuhi ancaman.
Militer Israel mengklaim serangan itu menyasar “teroris utama”. Namun, banyak pihak membantah.
“Ayah saya hanya ingin menyelamatkan nyawa,” kata Lubna.
Pernyataan senada datang dari Mer-C, lembaga kemanusiaan Indonesia yang membangun rumah sakit itu. Mereka menyebut Al-Sultan sebagai pemimpin yang tak pernah meninggalkan rakyatnya meski digempur perang dan dibatasi sumber daya.
Sejak rumah sakit itu dibangun pada 2011, fasilitas tersebut menjadi simbol solidaritas Indonesia dan Palestina. Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla bahkan menyebutnya “monumen persahabatan” saat seremoni peresmian pada 2016.
Namun kini, rumah sakit itu tak lagi beroperasi. Serangan demi serangan menghancurkan infrastrukturnya. Tak ada lagi layanan medis di Gaza utara. Tak ada lagi tempat berlindung.
Kementerian Luar Negeri Indonesia mengecam keras serangan yang menewaskan Al-Sultan. “Kami menghargai jasa dan perjuangan beliau dalam kemanusiaan,” bunyi pernyataan resmi.
Sepanjang 24 jam sebelum kematian Al-Sultan, sedikitnya 139 orang tewas di Gaza akibat gempuran Israel. Di al-Mawasi—yang disebut Israel sebagai “zona aman”—sejumlah pengungsi, termasuk anak-anak, justru menjadi korban. “Mereka tidur, lalu tiba-tiba semuanya berubah jadi abu,” kata Tamam Abu Rizq, seorang saksi mata.





