Di dalam Babad Tanah Jawi digambarkan bahwa selain mengajari murid-muridnya membaca Al-Qur’an, Raden Rahmat juga mengajari mereka kitab-kitab tentang ilmu syariat, tarekat, dan hakikat, baik lafal maupun makna. Raden Rahmat digambarkan mencontohkan kehidupan yang zuhud dengan melakukan riyadhah ketat. Sementara itu, dalam Babad Demak digambarkan bagaimana Sunan Ampel memberikan ajaran bersifat esoteris kepada Raden Paku atau Sunan Giri, berupa ilmu tasawuf yang didasarkan pada ilmu kalbu.
Berdasar sumber-sumber historiografi sebagaimana terpapar di muka, dapat disimpulkan bahwa Raden Rahmat, selain mengajarkan ilmu syariat, juga mengajarkan tarekat dan hakikat, yang dalam Babad Tanah Jawi naskah Drajat mengajarkan ilmu tasawuf dengan laku suluk menurut ajaran tarekat Naqsyabandiyah. Dengan mengajarkan ilmu tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam Babad Tanah Jawi, Raden Rahmat dianggap sederajat dengan para guru suci Syiwais yang berwenang melakukan diksha atau baiat saat itu, yang diberi sebutan kehormatan ‘susuhunan’.
Dengan demikian, gelar “susuhunan” atau “sunan” untuk Raden Rahmat memiliki dua makna, di mana keduanya saling menguatkan satu sama lain. Pertama, sebutan “susuhunan” atau “sunan” diberikan kepada Raden Rahmat karena kedudukannya sebagai Raja (bhupati) Surabaya yang berkediaman di Ampel, sehingga menjadi Susuhunan atau Sunan Ampel. Kedua, sebutan “susuhunan” atau “sunan” diberikan kepada Raden Rahmat karena kedudukannya sebagai guru suci di Dukuh Ampel, yang memiliki kewenangan melakukan diksha atau baiat kepada siswa-siswa rohaninya.

Usaha dakwah Islam Sunan Ampel yang persuasif, dengan pendekatan kekeluargaan dan penuh empati, tidak praktis bisa diterima oleh masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Babad Tanah Jawi, misalnya, menuturkan bagaimana penguasa Madura bernama Lembu Peteng mengusir dua ulama utusan Sunan Ampel, yaitu Khalifah Usen dan Syaikh Ishak.
Tak cukup mengusir kedua utusan itu, Lembu Peteng juga dikisahkan datang ke Ampeldenta untuk mencelakai Sunan Ampel. Dia menyamar dan berbaur degan santri. Ketika shalat Isya` akan dimulai, Lembu Peteng bersembunyi di kulah atau tempat wudu. Begitu melihat Sunan Ampel, ia mendekat dan menikamkan sebilah keris. Namun, usaha itu gagal. Dan Lembu Peteng dikisahkan malah mau memeluk Islam setelah peristiwa itu.





