Lebih Moderat Sejak Era Gus Dur
Pembelaan terhadap Palestina juga digalakkan oleh salah satu tokoh NU paling menonjol, KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Sebelum menjadi Ketua Umum PBNU, Gus Dur dikenal sebagai salah satu tokoh Indonesia yang aktif menyuarakan isu-isu pembebasan Palestina.
Pada tahun 1982, Gus Dur dan beberapa budayawan senior menyelenggarakan acara “Malam Solidaritas untuk Palestina”. Gus Dur mengusulkan agar acara itu diisi pembacaan puisi-puisi karya penyair Palestina, seperti Nizar Qabbani dan Mahmud Darwisy.
Banyak penyair terkemuka ikut ambil bagian dalam acara itu, seperti Taufik Ismail, Subagyo Sastrowardoyo, W.S. Rendra, dan Zawawi Imron. Sayang, penyair-penyair itu tidak ada satu pun yang bisa membacakan puisi dalam bahasa Arab. Dalam acara itu juga digelar pengumpulan dana dan aksi simpati terhadap warga Palestina bersama para tokoh dan sejumlah seniman.
Setelah Gus Dur memimpin PBNU pada 1984, isu Palestina tetap mendapat porsi besar ormas ini. Namun, sebagaimana dikutip dari Tirto.id, sejak menjabat sebagai Ketua PBNU, kesan pro-Palestina Gus Dur agak tertutupi oleh langkah-langkah kontroversialnya. Hingga pada akhirnya dia malah dituduh pro-Israel.
Tuduhan muncul karena Gus Dur pernah menjadi anggota The Peres Center for Peace and Innovation, yayasan perdamaian yang didirikan oleh bekas Presiden Israel Shimon Peres. Selain itu, pada awal 1990-an, Gus Dur melontarkan pernyataan bahwa suatu hari Indonesia harus mengakui negara Israel dan membuka hubungan diplomatik dengannya. Tetapi, toh, segala langkah dan pernyataan itu tak pernah mengurangi sedikit pun solidaritas Gus Dur terhadap Palestina.





