Israel mengumumkan telah membunuh Yahya Sinwar, pemimpin tertinggi Hamas, yang mereka sebut sebagai dalang di balik “serangan mematikan” di Israel pada 7 Oktober 2023.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam pernyataan sebagaimana dikutip AFP pada Kamis (17/10/2024), menyebut jika kematian Sinwar sebagai “pukulan berat” bagi Hamas—kelompok Palestina yang mereka hadapi lebih dari setahun ini.
“Ini adalah hari yang berat bagi kejahatan,” ujar Netanyahu, dilansir AFP. Meski perang belum berakhir, Netanyahu mengatakan jika kematian Sinwar merupakan, “Tonggak penting dalam kemunduran kekuasaan jahat Hamas.”
Militer Israel mengatakan bahwa mereka berhasil menghabisi Yahya Sinwar setelah pengejaran selama setahun, dalam operasi di Jalur Gaza selatan pada Rabu (16/10/2024). Di pihak lain, Hamas belum mengkonfirmasi kematian Sinwar.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Israel Israel Katz, menyatakan bahwa Sinwar adalah, “Pembunuh massal… bertanggung jawab atas pembantaian dan kekejaman pada 7 Oktober.”
Israel menuduh Sinwar sebagai otak di balik serangan paling mematikan dalam sejarah Israel dan memburunya sejak perang Gaza dimulai. Setelah naik melalui jajaran Hamas, Sinwar menjadi pemimpin Gaza, kemudian menjadi kepala utama Hamas setelah pemimpin politik Ismail Haniyeh tewas pada Juli.
Pengumuman Israel soal Sinwar ini muncul beberapa pekan setelah mereka melakukan serangan besar-besaran di Lebanon yang menewaskan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah komandan militan yang didukung Iran juga telah dibunuh oleh Israel.
Kematian Sinwar dapat menjadi pukulan besar bagi Hamas, terutama setelah kelompok tersebut mengalami pelemahan besar akibat perang yang telah berlangsung lebih dari setahun.
Presiden AS Joe Biden, yang pemerintahannya adalah penyedia senjata utama Israel, menyambut baik berita tersebut. “Ini adalah hari baik untuk Israel, Amerika Serikat, dan dunia,” kata Biden. Dia menambahkan bahwa ada “kesempatan untuk ‘hari setelah’ di Gaza tanpa Hamas berkuasa.”*





