“Iran pada dasarnya menolak skema teroris seperti itu. Kami tidak memiliki perang dengan rakyat Amerika,” ujarnya. Larijani secara cerdik memisahkan konflik politik antar-pemerintah dari hubungan kemanusiaan.
Pernyataan ini sekaligus merespons kekhawatiran global terkait potensi operasi false flag (bendera palsu) yang bisa memicu perang terbuka di kawasan Timur Tengah.
Memori Kelam Tragedi 9/11
Pilihan Larijani membawa memori 9/11 ke permukaan tentu melewati perhitungan matang. Tragedi 11 September 2001 adalah luka terdalam yang mengubah peta geopolitik Amerika Serikat secara permanen. Berikut kilas balik mengerikannya tragedi yang Larijani sebut akan mereka replikasi:
- Korban Jiwa Masif: Sebanyak 2.977 nyawa melayang saat pesawat menabrak Menara Kembar WTC di New York, Pentagon, dan jatuh di Pennsylvania.
- Operasi Kilat: Teroris hanya butuh waktu 102 menit untuk meruntuhkan simbol kekuatan ekonomi AS. Serangan bermula pukul 08.46 hingga Menara Utara runtuh total pada 10.28.
- Aktor Utama: Al-Qaeda di bawah pimpinan Osama bin Laden mengklaim bertanggung jawab penuh atas pembajakan empat pesawat komersial tersebut.
- Perburuan Panjang: Intelijen AS (CIA) menghabiskan waktu satu dekade untuk melacak bin Laden, yang akhirnya tewas dalam operasi penyergapan di Abbottabad, Pakistan, pada Mei 2011.
Babak Baru Perang Narasi
Tudingan Larijani soal keterlibatan “sisa jaringan Epstein” jelas menambah kerumitan konflik AS-Iran. Meskipun narasi ini terdengar menyerupai teori konspirasi fiksi, pernyataan dari pejabat intelijen setingkat Sekretaris Dewan Keamanan Nasional jarang meluncur tanpa motif.
Apakah pernyataan ini merupakan peringatan dini untuk menggagalkan ancaman nyata? Ataukah sekadar manuver diplomasi Teheran untuk meraih simpati publik Amerika? Satu hal yang pasti, bayang-bayang kelam 9/11 kembali menghantui narasi keamanan global hari ini.





