Berhenti main medsos sebulan terbukti turunkan depresi dan perbaiki tidur, apalagi jika bareng keluarga.
Apakah Anda sering merasa cemas atau sulit tidur setelah terlalu lama menggulir layar ponsel? Jawabannya mungkin ada pada kebiasaan Anda bermedia sosial.
Sebuah survei terbaru dari Princeton University Amerika Serikat dan Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mengungkap fakta menarik: puasa media sosial mampu meningkatkan kesehatan mental secara signifikan. Temuan yang rilis pada Minggu, 15 Maret 2026 ini menunjukkan bahwa rehat sejenak dari dunia maya membawa dampak luar biasa bagi kondisi psikologis kita.
Efek Ganda Lewat “Puasa” Kolektif
Menariknya, manfaat positif ini akan melesat jauh jika Anda tidak melakukannya sendirian. Peneliti dari Princeton University, Nicholas Kuipers, menegaskan bahwa efek pemulihan mental terasa paling kuat ketika seluruh anggota rumah tangga sepakat untuk mematikan media sosial mereka bersama-sama.
“Terutama pada mereka yang berhenti menggunakan media sosial bersama semua anggota rumah tangga,” ujar Kuipers dalam rilis resminya.
Laporan penelitian tersebut mencatat bahwa langkah kolektif ini efektif meningkatkan kualitas tidur, meredam kecemasan, serta mendongkrak kesejahteraan mental keluarga secara menyeluruh.
Eksperimen Satu Bulan: Bagaimana Hasilnya?
Untuk membuktikan hipotesis ini, tim peneliti melibatkan 1.502 responden dalam skema survei panel yang berlangsung dua kali. Survei pertama berjalan pada 17 November hingga 15 Desember 2025, menyusul survei kedua pada 16 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026 dengan 1.408 responden tersisa.
Peneliti membagi responden ke dalam tiga kelompok uji coba:
- Kelompok T1 (399 orang): Diminta menonaktifkan media sosial secara individu selama satu bulan.
- Kelompok T2 (701 orang): Diminta menonaktifkan media sosial secara kolektif bersama seluruh anggota keluarga (usia 18 tahun ke atas) selama satu bulan.
- Kelompok Kontrol: Tidak melakukan perubahan apa pun pada kebiasaan bermain media sosial mereka.
Pada awal penelitian, mayoritas warga (83%) sebenarnya memiliki kondisi emosional yang cukup positif. Bahkan, 93% responden memiliki tingkat kecemasan yang tergolong rendah. Namun, perubahan signifikan mulai terlihat setelah eksperimen satu bulan berjalan.
Tren Depresi Menurun Tajam
Skor depresi pada kelompok kontrol yang tetap bermain media sosial justru merangkak naik dari angka 23,8 menjadi 24,4. Sebaliknya, kelompok yang melakukan “puasa medsos” mencatat penurunan skor depresi yang menggembirakan.




