Syndrome Bebek yang Diam-diam Menyebar

Ilustrasi duck syndrome, terlihat tenang namun sedang berusaha keras dan cemas. - Emediatc.com
Di balik sorotan media sosial yang tampak mulus dan bahagia, jutaan orang menyembunyikan satu kebenaran yang berat: mereka sedang hampir tenggelam.

Pada Selasa, 19 Mei 2026, sebuah cuitan dari akun @0xh***** menyulut percakapan yang tak terduga. Akun itu membedah sesuatu yang rupanya dirasakan banyak orang tapi jarang diucapkan: kondisi seseorang yang tampak hidup nyaman dan aman, sementara di dalamnya memendam kelelahan emosional yang tak tertahankan.

Dalam tiga hari, lebih dari 31 ribu orang membagikan ulang cuitan itu — bukan sekadar karena menarik, melainkan karena mereka mengenali diri mereka di dalamnya.

Fenomena itu punya nama: duck syndrome, atau sindrom bebek.

Bacaan Lainnya
Anggun di Permukaan, Panik di Bawahnya

Istilah ini lahir di Stanford University dan awalnya menggambarkan para mahasiswa yang tampak meluncur mulus melewati tekanan akademik dan sosial — padahal, seperti seekor bebek yang berenang anggun di atas air, kaki mereka mengayuh keras dan panik di balik permukaan yang tak terlihat.

Sosiolog Erving Goffman pernah merumuskan hal serupa lewat konsep front stage dan back stage. Manusia modern, katanya, menguras energi untuk menampilkan versi terbaik diri mereka di panggung depan — dan menyembunyikan segala kerapuhan jauh di belakang layar.

Di era media sosial, panggung depan itu kini bernama lini masa. “Banyak orang merasa lelah karena harus terus terlihat produktif, sukses, dan bahagia, sementara di balik layar mereka sedang berjuang setengah mati agar tidak tumbang,” kata Danti Wulan Manunggal, psikolog dari Ibunda.id.

Ketika Kampus Menjadi Arena

Di lingkungan akademik, tekanan ini terasa semakin nyata. Mahasiswa berlomba mengambil semua kesempatan — magang, organisasi, kompetisi — bukan selalu karena ingin, melainkan karena takut dianggap tidak kompetitif jika tidak ikut.

“Banyak mahasiswa merasa harus ambil semua kesempatan karena takut tertinggal,” ungkap Anisa Yuliandri, psikolog dari CSDU FEB UGM. “Seseorang cenderung mengatur dan mengendalikan citra diri agar terlihat kuat dan mampu, meski di balik layar ia sedang sangat lelah.”

Anisa merujuk pada Self-Determination Theory, yang menyatakan bahwa manusia membutuhkan tiga fondasi psikologis: rasa kendali atas diri sendiri (autonomy), rasa mampu (competence), dan rasa terhubung dengan orang lain (relatedness). Ketika pilihan hidup tidak lagi datang dari dalam diri, melainkan dari dorongan untuk memenuhi ekspektasi orang lain, ketiga fondasi itu goyah.

Bahaya yang Tak Terlihat

Yang membuat sindrom bebek berbahaya bukan keparahannya, melainkan sifatnya yang tak kasat mata. Ungkapan “semua orang juga capek” atau “memang harus begini kalau mau sukses” menjadi pembenaran yang perlahan meracuni. Konflik batin yang terus-menerus ini menciptakan disonansi kognitif — hingga pada satu titik, seseorang merasa asing dengan dirinya sendiri.

Jika dibiarkan tanpa penanganan, dampaknya bisa serius: burnout kronis akibat memendam beban sendirian terlalu lama; gangguan kecemasan dan depresi ketika emosi negatif yang terpendam akhirnya meledak; hingga isolasi emosional — rasa hampa dan kesepian yang akut, bahkan di tengah ribuan pengikut di dunia maya.

Belajar Membuka Topeng

Jalan keluarnya bukan pada produktivitas yang lebih efisien atau manajemen waktu yang lebih ketat. Langkah pertamanya jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih berat: jujur pada diri sendiri.

“Sikap jujur ini merupakan bentuk keberanian,” kata Anisa. “It’s okay to not be okay. Kita tidak harus selalu produktif atau terlihat bahagia. Menerima semua, dan mengizinkan diri merasa sedih adalah bagian dari pemulihan. Belajar mengatakan tidak tanpa rasa bersalah adalah keterampilan penting.”

Menjaga citra memang bukan sesuatu yang salah. Tapi ada satu hal yang lebih berharga dari tampak baik-baik saja: benar-benar baik-baik saja. Dan terkadang, satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah dengan berhenti berpura-pura bahwa kaki kita tidak sedang mengayuh sekuat tenaga di bawah permukaan.***

Pos terkait