Media Sosial Ubah Cara Publik Bersuara

Media Sosial di Indonesia
Ilustrasi.
Guru Besar FISIP Unair Rachmah Ida menilai media sosial telah bergeser dari ruang pertemanan menjadi arena opini publik, mobilisasi massa, dan tekanan sosial.

Media sosial kini tidak lagi sekadar ruang berbagi kabar. Di Indonesia, platform digital telah membentuk cara masyarakat memahami isu publik, menyuarakan aspirasi, bahkan menekan respons lembaga.

Guru Besar Media FISIP Universitas Airlangga, Prof Dra Rachmah Ida MComms PhD, mengatakan perubahan itu lahir dari pergeseran pola komunikasi manusia. Interaksi tatap muka makin banyak digantikan komunikasi bermedia.

Bacaan Lainnya

“Komunikasi tatap muka sekarang jauh berkurang daripada komunikasi yang berlangsung melalui media. Media sosial awalnya hadir untuk membangun social network, mempertemukan orang, dan memperluas relasi. Namun, fungsinya terus berkembang seiring perubahan kebutuhan masyarakat,” ujar Rachmah Ida, Rabu (10/6/2026).

Dalam momentum Hari Media Sosial Nasional, Ida mengingatkan publik agar tidak menyamakan media sosial dengan media massa. Keduanya bekerja dengan logika berbeda.

Media massa memproduksi dan menyebarkan informasi melalui proses jurnalistik yang terstruktur. Sementara media sosial bertumpu pada interaksi antarpengguna, dengan arus informasi yang jauh lebih cair dan cepat.

Ruang Publik yang Bergerak Cepat

Menurut Ida, fungsi media sosial telah berubah secara signifikan. Platform yang awalnya dirancang untuk memperluas jejaring kini berkembang menjadi ruang publik digital yang kompleks.

“Media sosial bahkan berperan sebagai sarana mobilisasi massa, wadah gerakan sosial, hingga instrumen yang turut memengaruhi dinamika politik di berbagai negara,” ujarnya.

Ia mencontohkan Arab Spring sebagai salah satu peristiwa yang memperlihatkan kemampuan media sosial mengorganisasi gerakan masyarakat dalam skala besar.

Bagi Ida, fenomena itu menunjukkan bahwa media sosial bukan hanya ruang percakapan. Ia telah menjadi instrumen yang dapat memengaruhi arah kehidupan sosial dan politik sebuah negara.

“Media sosial memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi secara lebih luas. Dalam sistem demokrasi, hal ini tentu menjadi peluang karena masyarakat memiliki saluran untuk bersuara,” jelasnya.

Antara Aspirasi dan Hoaks

Di Indonesia, kekuatan media sosial terlihat dalam fenomena No Viral No Justice. Unggahan yang viral kerap mendorong perhatian publik terhadap sebuah persoalan, lalu memengaruhi respons pihak terkait.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan