Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Air dan Energi Timur Tengah jika AS Serang Pembangkit Listrik

Sebuah papan reklame di Teheran yang menampilkan potret mendiang pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. — The Guardian
Iran mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital di Timur Tengah, termasuk sistem air dan energi, jika Amerika Serikat menindaklanjuti ancaman Presiden Donald Trump untuk “meluluhlantakkan” pembangkit listrik Iran.

Presiden AS Donald Trump memberikan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka penuh Selat Hormuz. Batas waktu berakhir Senin (23/3/2026) tengah malam GMT. 

Jika tidak dipenuhi, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Trump mengancam akan “menghantam dan meluluhlantakkan” pembangkit listrik Iran, “dimulai dari yang terbesar.”

Ancaman ini memicu respons balik yang tak kalah keras dari Teheran. 

Bacaan Lainnya

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa infrastruktur vital di kawasan, termasuk fasilitas energi dan desalinasi air, akan menjadi sasaran sah dan “dihancurkan secara permanen” jika infrastruktur Iran diserang.

Komando markas besar operasional militer Iran, Khatam al-Anbiya, menyatakan akan menyerang “semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi” milik AS dan Israel di kawasan tersebut.

Selat Hormuz Terancam Tertutup Total

Iran juga mengancam akan menutup total Selat Hormuz jika pembangkit listriknya diserang. Selat itu tidak akan dibuka kembali hingga pembangkit yang hancur dibangun ulang.

Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi aliran minyak dunia, mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak global dan gas alam cair. Serangan Iran secara efektif telah menutup selat tersebut—menyebabkan krisis minyak terburuk sejak 1970-an.

Kapal-kapal tanker berlayar di kawasan Teluk, di dekat Selat Hormuz, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran pada 11 Maret. – Reuters via Al Jazeera

Harga gas Eropa melonjak hingga 35 persen pekan lalu. Hanya sekitar 5 persen kapal dari volume sebelum perang yang diizinkan lewat, khususnya dari negara-negara yang dianggap bersahabat seperti China, India, dan Pakistan.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, membela ancaman Trump dengan menyatakan bahwa Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menguasai sebagian besar infrastruktur Iran dan menggunakannya untuk mendukung upaya perang.

Korban Sipil Berjatuhan di Israel dan Iran

Serangan Iran dengan rudal balistik menghantam kota Dimona dan Arad di Israel selatan pada Sabtu (21/3/2026) malam. Sekitar 200 orang dilaporkan terluka, termasuk seorang anak laki-laki 12 tahun dan anak perempuan 5 tahun dalam kondisi serius.

Dimona merupakan lokasi pusat penelitian nuklir Negev, yang diyakini sebagai tempat penyimpanan satu-satunya senjata nuklir di Timur Tengah. Israel tak pernah mengakui memiliki senjata nuklir dan bersikeras fasilitas tersebut hanya untuk penelitian.

Tampilan drone menunjukkan kerusakan setelah malam serangan Iran di Dimona. – Roei Kastro/Reuters

Untuk pertama kalinya, rudal Iran menembus sistem pertahanan udara Israel di kawasan tersebut. Militer Israel mengakui tidak mampu mencegat rudal yang menghantam Dimona dan Arad.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran menyatakan pasien dievakuasi dari Rumah Sakit Imam Ali di kota Andimeshk setelah serangan udara sehari sebelumnya. Lebih dari 2.000 orang telah tewas di Iran sejak AS dan Israel memulai serangan pada 28 Februari 2026.

Netanyahu: Kami Akan Buru Komandan IRGC

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons dengan pernyataan keras. Dalam kunjungannya ke Arad, ia menyatakan akan memburu komandan senior IRGC.

“Kami mengejar rezim. Kami mengejar IRGC, geng kriminal ini. Kami mengejar mereka secara pribadi, para pemimpin mereka, instalasi mereka, aset ekonomi mereka,” ujar Netanyahu.

Militer Israel menyatakan akan menyerang Teheran sebagai pembalasan. Di Tel Aviv, 15 orang terluka dalam insiden terpisah yang melibatkan bom kluster pada Minggu pagi.

WHO: Perang pada Tahap Berbahaya

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa perang berada pada “tahap berbahaya” dan menyerukan pengendalian diri.

“Serangan yang menargetkan situs nuklir menciptakan ancaman yang meningkat bagi kesehatan masyarakat dan keselamatan lingkungan,” kata Tedros.

Amnesty International bulan ini memperingatkan bahwa serangan terhadap sistem penyedia layanan esensial seperti listrik, pemanas, dan air berisiko melanggar hukum internasional. Dalam beberapa kasus, hal itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang karena berpotensi menimbulkan kerusakan sipil yang luas dan menghancurkan.

Situs Strategis AS di Irak dan Arab Saudi Diserang

Setidaknya enam serangan semalam menargetkan pusat diplomatik dan logistik AS di Bandara Baghdad, menurut pejabat Irak. Arab Saudi melaporkan tiga rudal terdeteksi di wilayah Riyadh.

Uni Emirat Arab menyatakan telah merespons serangan rudal dan drone Iran. Sementara itu, Israel memperluas operasi darat di Lebanon selatan dan mengklaim telah membunuh 10 pejuang Hizbullah.***

Pos terkait