Di Tengah Pemadaman Nasional, Kuba Bentengi Diri dari Upaya ‘Ambil Alih’ Negara oleh Trump

Sebagian besar warga Kuba, termasuk mereka yang berada di ibu kota, Havana, mengalami pemadaman listrik selama 16 jam atau lebih setiap harinya, bahkan sebelum keruntuhan jaringan listrik terbaru terjadi. — AP
Kuba kembali mengalami pemadaman total sistem kelistrikan nasional untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari seminggu. Memicu protes warga dan memperparah krisis energi berkepanjangan.

Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba mengumumkan terjadinya pemadaman total pada Sabtu (21/3/2026). “Pemutusan total Sistem Elektrik Nasional telah terjadi. Protokol pemulihan mulai diterapkan,” demikian pernyataan resmi kementerian di akun X.

Perusahaan Listrik Nasional Kuba menjelaskan bahwa pemadaman dipicu oleh matinya Unit No. 6 di pembangkit listrik Nuevitas. Peristiwa itu kemudian menimbulkan efek domino yang melumpuhkan jaringan kelistrikan di seluruh negeri.

Kejadian ini merupakan pemadaman besar keempat yang melanda Kuba dalam empat bulan terakhir. Hanya lima hari sebelumnya, pada Senin (16/3/2026), pemadaman serupa berdampak pada sekitar 11 juta penduduk.

Bacaan Lainnya
Protes Masyarakat Meningkat di Tengah Krisis

Saluran berita CBS Miami melaporkan munculnya aksi protes di Kuba dalam sepekan terakhir. Masyarakat menyuarakan frustrasi atas pemadaman listrik yang berkepanjangan serta memburuknya kondisi kehidupan di pulau tersebut.

Sebelum pemadaman Sabtu lalu, organisasi kemanusiaan mulai mengirimkan bantuan ke Kuba melalui jalur udara pada Jumat (20/3/2026). Bantuan yang dikirim mencakup panel surya, makanan, dan obat-obatan.

Krisis energi yang terjadi berbarengan dengan krisis ekonomi yang semakin dalam. Pemerintah Kuba menyalahkan situasi ini pada blokade energi yang diterapkan Amerika Serikat.

Trump: Saya Akan Segera “Mengambil” Kuba

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam konferensi pers sebelumnya menyatakan keyakinannya bahwa pemerintah Kuba berada di ambang keruntuhan. Ia mengaitkan situasi tersebut dengan operasi militer AS di Venezuela pada awal Januari 2026.

“Mereka adalah negara yang sangat lemah saat ini. Saya pikir saya akan segera mendapat kehormatan untuk mengambil Kuba. Entah saya membebaskannya, mengambilnya—saya rasa saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan dengan negara itu, sejujurnya,” ujar Trump kepada wartawan.

Pernyataan Trump tersebut merujuk pada penghentian pengiriman minyak dari Venezuela setelah AS melakukan serangan ke negara itu dan menangkap presidennya saat itu, Nicolás Maduro, pada awal Januari 2026.

Sebelumnya, pada Januari 2026, Trump juga mengancam akan memberlakukan tarif bagi negara mana pun yang menjual atau memasok minyak ke Kuba.

Kuba: Setiap Agresor Eksternal Akan Berhadapan dengan Perlawanan

Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel Bermúdez merespons situasi ini melalui unggahan di X pada Selasa (17/3/2026). Ia menegaskan ketahanan negaranya menghadapi tekanan eksternal.

“Dalam skenario terburuk sekalipun, Kuba ditemani oleh satu kepastian: setiap agresor eksternal akan berbenturan dengan perlawanan yang tak tertembus,” tulis Díaz-Canel.

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel. – VOA Indonesia

Kuba selama ini sangat bergantung pada bantuan luar negeri dan pengiriman minyak dari negara sekutu seperti Meksiko, Rusia, dan Venezuela. Namun, pasokan minyak kritis dari Venezuela terhenti setelah serangan AS dan penangkapan Maduro.***

Pos terkait