Iran Ancam Blokade Laut Merah Balas Aksi Maritim AS

Ketegangan di Selat Hormuz meningkat. Angkatan Laut AS berhasil memaksa delapan kapal tanker Iran putar balik ke China. DOK. PRESS TV
Armada AS paksa 8 tanker Iran putar balik, picu ancaman blokade total di Teluk Persia hingga Laut Merah. Akankah gencatan senjata runtuh dan mengguncang pasar energi dunia?

Armada Amerika Serikat (AS) berhasil memaksa delapan kapal tanker terkait Iran putar balik ke China. Sebagai balasan, Komandan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbia Iran, Ali Abdollahi, akan memblokade Teluk Persia, Teluk Oman, hingga Laut Merah.

Ali Abdollahi menegaskan, jika langkah tersebut terus berlanjut, Iran tidak akan segan menghentikan seluruh aktivitas ekspor dan impor di kawasan tersebut.

“Jika AS yang agresif melanjutkan blokade maritim dan menciptakan ketidakamanan bagi kapal komersial Iran, maka ini menjadi awal pelanggaran gencatan senjata. Angkatan Bersenjata Iran tidak akan mengizinkan aktivitas ekspor maupun impor berlangsung,” tegasnya kepada Tasnim News Agency, Rabu (15/4/2026).

Bacaan Lainnya
AS Perketat Jalur Laut

Ketegangan meningkat setelah laporan The Wall Street Journal menyebut pasukan laut AS telah memaksa sedikitnya delapan kapal tanker terkait Iran untuk berbalik arah sejak awal pekan.

Kapal-kapal tersebut dihubungi melalui radio dan diperintahkan mengubah haluan sebagai bagian dari pembatasan lalu lintas menuju pelabuhan Iran. Seluruh tanker dilaporkan mematuhi perintah tanpa insiden.

Langkah ini memperkuat indikasi bahwa Washington mulai menerapkan kontrol ketat di jalur pelayaran vital, termasuk di sekitar Selat Hormuz.

Supertanker Iran Lolos

Di tengah tekanan tersebut, sebuah supertanker minyak Iran dilaporkan berhasil memasuki perairan Iran setelah melintasi Selat Hormuz. Laporan ini disampaikan Anadolu Agency yang mengutip kantor berita Fars.

Supertanker itu memiliki kapasitas sekitar 2 juta barel minyak mentah dan berlayar melalui perairan internasional dengan sistem pelacakan tetap aktif tanpa upaya penyamaran.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari otoritas AS terkait laporan tersebut.

Blokade dan Gencatan Senjata Rapuh

Sebelumnya, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan telah “sepenuhnya menghentikan” aktivitas perdagangan maritim ke dan dari Iran. Blokade diberlakukan terhadap seluruh kapal yang masuk dan keluar pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman.

Ketegangan ini merupakan lanjutan eskalasi konflik sejak 28 Februari 2026, setelah serangan militer AS dan Israel terhadap Iran yang menewaskan Ali Khamenei serta sejumlah komandan militer.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan selama 40 hari terhadap aset militer AS dan Israel.

Gencatan senjata dua pekan yang dimediasi pada 8 April sempat membuka ruang diplomasi di Islamabad. Namun, setelah 21 jam perundingan, delegasi Iran kembali ke Teheran tanpa kesepakatan.

Risiko Global Meningkat

Di tengah kebuntuan diplomasi, Donald Trump mengumumkan kebijakan blokade laut di Selat Hormuz untuk mencegat kapal yang terafiliasi dengan Iran.

Ancaman Iran untuk menutup jalur ekspor-impor di kawasan Teluk hingga Laut Merah berpotensi mengguncang pasar energi global, mengingat wilayah tersebut merupakan jalur utama distribusi minyak dunia.

“Iran akan mengambil tindakan tegas untuk mempertahankan kedaulatan dan kepentingan nasionalnya,” kata Abdollahi.

Dengan eskalasi terbaru ini, gencatan senjata yang rapuh terancam runtuh, sementara dunia menghadapi risiko gangguan serius terhadap stabilitas energi dan keamanan maritim internasional.

Di sisi lain, upaya negosiasi tahap kedua tengah diinisiasi oleh Pakistan untuk menjembatani ketegangan antara AS dan Iran.***

 

Pos terkait