Empat tahun kuliah, menghafal teori dari zaman lampau, menyelesaikan skripsi setebal novel detektif, lalu berdiri bangga di bawah balon warna-warni dengan toga dan senyum penuh harapan. Tapi sebulan… dua bulan… setahun berlalu, pekerjaan tak kunjung tiba.
__________
Selamat datang di dunia nyata, di mana ijazah kadang lebih cocok jadi hiasan dinding ruang tamu ketimbang tiket masuk dunia kerja.
Menurut data Kementerian Ketenagakerjaan, lebih dari 1 juta lulusan S1 di Indonesia sedang menganggur. Itu belum termasuk 177 ribu lulusan diploma, 1,6 juta jebolan SMK, dan ratusan ribu lainnya yang nasibnya tak jauh berbeda. Rasanya seperti reality show: siapa yang akan selamat dari pengangguran episode berikutnya?
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli bahkan menyatakan secara terang-terangan bahwa kuliah empat tahun tak lagi cukup. Dunia kerja sudah berubah total—tapi sayangnya, sebagian besar sistem pendidikan masih hidup di masa lalu. Sementara industri bicara AI, green jobs, dan big data, kita masih disuruh bikin makalah pakai Times New Roman 12 spasi 1,5.
Bukan hanya Indonesia yang kelimpungan. Di Amerika Serikat (AS), pengangguran sarjana baru mencapai 5,8 persen—tertinggi dalam beberapa dekade. Di Kanada, sepertiga lulusan bekerja di posisi yang tak butuh gelar mereka.
Di Inggris, hampir sejuta anak muda menganggur dan tak ikut pelatihan apa pun. Kalau itu bukan sinyal darurat, entah apa lagi.
Masalahnya sebenarnya sederhana: yang diajarkan tak sesuai dengan yang dibutuhkan. Kampus mengajarkan cara menganalisis teori ekonomi Keynesian, tapi lowongan kerja minta kamu bisa edit video, handle klien pakai CRM, atau coding Python.
Dan sayangnya, Keynes belum sempat belajar itu semua.
Sementara gelar makin “inflasi”—yang dulu cukup pakai S1, sekarang harus S2. Tapi isi kerjanya? Tetap bikin laporan Excel dan jadi admin WhatsApp grup. Makin pintar secara gelar, tapi makin bingung secara nasib.
Menaker tahu ini bukan hanya soal angka, tapi soal arah. Karena itu, ia mendorong pelatihan berbasis proyek (project-based learning) di 41 balai latihan kerja (BLK) pusat dan ratusan lainnya di daerah. Fokusnya: kemampuan nyata, bukan prestasi hafalan.
Smart farming, digital content, panel surya, hingga AI skala rumahan—semua mulai masuk radar pelatihan. Sementara di luar sana, perusahaan juga pelan-pelan berhenti mencari lulusan “cumlaude” dan mulai mencari orang yang bisa langsung kerja, enggak perlu diajar dari nol.
Di Inggris, permintaan gelar di sektor AI dan green jobs justru turun 15 persen dalam lima tahun terakhir, tapi kebutuhan keterampilan teknis naik 21 persen (arXiv, 2023). Artinya, gelar makin kehilangan efek kejutnya. Yang penting sekarang: kamu bisa apa? Bukan kamu S1 dari mana.
Jadi, apakah pendidikan tak penting?
Tentu penting. Tapi, seperti peta, ia harus menunjuk ke arah yang benar. Kalau terus memberi arah ke jalan buntu, mungkin sudah waktunya diganti dengan GPS baru. Yang lebih akurat. Yang tahu bahwa dunia kerja hari ini tidak menunggu orang dengan nilai A, tapi orang yang bisa menjawab: “Masalahmu apa, saya bisa bantu dengan cara ini.”
Mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Kamu lulusan mana?”, dan mulai bertanya, “Kamu bisa bikin apa?”
Atau kalau mau lebih jujur lagi: “Kamu bisa bantu kami bertahan di dunia yang makin absurd ini, atau cuma bawa fotokopi ijazah doang?”***





