Hilirisasi Nikel Disebut Timbulkan Malapetaka bagi Petani dan Nelayan

“Semakin didorong kapasitas produksi dari smelter nikel, terjadi tekanan yang luar biasa di sektor pertanian, perikanan, dan perhutanan,” ujar Bhima.

Menurut Bhima, gagasan yang menyebutkan bahwa peluang kerja dari hilirisasi nikel akan membantu tenaga kerja lokal dan meningkatkan pendapatan rata-rata masyarakat adalah premis yang keliru. Sebab, kata dia, pada kenyataannya, petani di sekitar area pertambangan masih bekerja di lahan mereka, sementara tenaga kerja industri nikel berasal dari provinsi lain. Keberadaan smelter juga disebut sebagai ancaman bagi petani lokal.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, Wahana Lingkungan Hidup atau Walhi menyoroti potensi ancaman bagi petani lada di salah satu daerah Sulawesi Selatan pada 2023. Nilai ekonomi yang dihasilkan perkebunan tersebut mencapai Rp3,6 triliun per musim/tahun.  Namun, menurut Walhi, perkebunan tersebut terancam oleh konsekuensi lingkungan dari kerusakan hutan hujan dan danau, sebagai imbas pembangunan smelter nikel.

Menurut Direktur Walhi Sulawesi Tengah, Sunardi, hilirisasi nikel yang tengah massif di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara telah menimbulkan dampak negatif yang sangat buruk bagi lingkungan dan masyarakat. Korbannya saat ini lebih besar dari manfaat yang diterima negara.

“Mulai dari deforestasi yang makin meluas, pencemaran lingkungan mulai dari hutan, sungai, hingga pesisir, pencemaran udara, hingga penggusuran lahan-lahan perkebunan produktif masyarakat. Akibatnya, masyarakat yang dulunya hidup sejahtera menjadi semakin miskin,” jelas Sunardi.

Selain itu, Sunardi menambahkan, kehidupan pekerja di industri-industri pengolahan nikel tidak mengalami perubahan taraf hidup yang signifikan. Bahkan, kata dia, tidak sedikit pekerja yang mengalami kecelakaan kerja karena bekerja tanpa perlindungan. Yang lebih parah, menurut Sunardi, adalah para pekerja di industri pengolahan nikel menerima upah yang tidak sebanding dengan beban kerja.

“Dari fakta-fakta tersebut, ide Gibran terkait peningkatan hilirisasi nikel adalah ide yang sangat buruk. Kami dan masyarakat terdampak hilirisasi nikel tentu saja menolak keras ide Gibran tersebut,” tegasnya.

Sedangkan Direktur Walhi Sulawesi Tenggara, Andi Rahman, menjelaskan, perusahaan Brazil, Jepang, Australia, dan terutama perusahaan China, adalah pihak yang mendapatkan keuntungan paling besar dari hilirisasi nikel.

“Artinya, ide Gibran yang sangat mirip dengan ide bapaknya, terkait hilirisasi nikel, hanya menguntungkan perusahaan China dan perusahaan-perusahaan lainnya. Sementara kami dan masyarakat Sulawesi, khususnya yang hidup di lingkar tambang dan industri nikel, hanya mendapat beban kerusakan lingkungan dan polusi. Tentu saja ini harus ditolak”, kata Andi, dikutip dari walhi.sulsel.id, 23 Desember 2023.❒


FOTO: Ilustrasi pertambangan nikel. (Dok. SF)

 

Pos terkait