Bank Indonesia memperkirakan arus keluar dana asing dari aset portofolio domestik masih berlanjut karena sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS. Namun, otoritas moneter menegaskan komitmen menjaga stabilitas rupiah melalui intervensi di pasar keuangan.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan, “Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan USD dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut.” Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi pada Jumat (16/10).
Intervensi dan Koordinasi
BI melakukan pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder serta intervensi melalui transaksi Non-Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot, dan Domestic Non-Deliverable Forward di pasar domestik. Otoritas juga menjaga kecukupan likuiditas serta mengelola struktur suku bunga di pasar uang, sambil berkoordinasi intensif dengan korporasi dan pelaku pasar.
Pada pembukaan Jumat (16/10), rupiah berada di level 18.024 per dolar AS, melemah 86 poin atau sekitar 0,48 persen dari penutupan sebelumnya di 17.938. Secara quarter-to-date, pelemahan tercatat terbatas 0,28 persen dan pergerakannya sejalan dengan mata uang kawasan.
Daya Tahan yang Tetap Terjaga
Cadangan devisa pada akhir September 2026 tercatat USD146,3 miliar dan BI memastikan kondisinya masih terjaga. Data sebelumnya yang disampaikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada 9 Oktober menunjukkan bahwa secara keseluruhan tahun 2026 hingga awal Oktober, pasar keuangan Indonesia masih mencatatkan net inflow Rp131,1 triliun. Arus masuk ke SBN dan SRBI mampu mengimbangi aliran keluar dari pasar saham.
Tekanan yang muncul saat ini bersumber dari faktor eksternal, termasuk ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat dan ketidakpastian geopolitik. Pemerintah dan BI terus memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah dinamika global tersebut.***





