Dua belas naskah kuno saksi bisu perjalanan Jakarta kini hadir menyapa publik. Pameran Kearsipan di Taman Ismail Marzuki mengundang kita membaca ulang sejarah kota, dari era pelabuhan Sunda Kelapa hingga hiruk-pikuk metropolis masa kini.
Lorong waktu seolah terbuka di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Lembaran-lembaran usang yang menyimpan memori ratusan tahun lalu kini tersaji rapi di hadapan publik. Sebanyak 12 naskah kuno berstatus Ingatan Kolektif Nasional (IKON) menghiasi Pameran Kearsipan bertajuk “Dulu Kampung Gue, Sekarang Kota Kite”.
Berlangsung sebagai bagian dari Festival Pustakarsa 2026 pada 14–22 Oktober 2026, pameran ini mengajak warga kota sejenak berhenti dari rutinitas. Pengunjung bisa menelusuri jejak panjang Jakarta melalui arsip, naskah kuno, dan karya sastra lama. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia telah menetapkan belasan naskah ini sebagai IKON pada 2025 lalu demi merawat warisan dokumenter pembentuk sejarah bangsa.
Sejarah Jakarta tidak lahir dalam semalam. Jauh sebelum menjelma menjadi kota metropolitan, wilayah ini bersalin rupa dari Sunda Kelapa, Jayakarta, hingga Batavia. Seluruh rekam jejak tersebut tertulis abadi dalam berbagai manuskrip, babad, hingga catatan kolonial yang kini bisa kita selami kembali.
Jejak Kalapa dalam Lembar Parahyangan
Melangkah ke bagian awal pameran, pengunjung akan bersinggungan dengan akar terdalam Jakarta. Sebelum VOC menancapkan kuku kekuasaannya, Jakarta merupakan kota pelabuhan penting di bawah naungan kerajaan bercorak Hindu di Jawa Barat. Cerita masa lalu ini terekam jelas dalam naskah-naskah Sunda Kuno.
Kita bisa menemukan Carita Parahyangan, sebuah teks berbahasa Sunda Kuno yang mengisahkan riwayat pelabuhan Kalapa (Sunda Kelapa) sebagai bandar utama Kerajaan Sunda Pajajaran. Ada pula Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518), naskah yang telah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Meski menititikberatkan ajaran etika, naskah ini memotret tatanan masyarakat dan jaringan geografi Nusantara pada masa pra-kolonial.
Momentum perubahan kekuasaan juga tidak luput dari catatan sejarah. Babad Banten merekam dengan rinci peristiwa penyerangan Fatahillah pada 22 Juni 1527. Lembar demi lembar babad ini bercerita tentang jatuhnya Sunda Kelapa dan lahirnya nama Jayakarta di bawah panji Kesultanan Banten.
Geliat Sastra Melayu di Sudut Pecenongan
Memasuki babak kolonial, denyut kehidupan sosial-politik masyarakat lokal tidak serta-merta mati. Di sudut-sudut kota, justru bermunculan pusat penyalinan naskah (skriptorium) yang melahirkan karya-karya bertulisan Jawi (Arab-Melayu).
Kawasan Pecenongan di Jakarta Pusat pernah menjadi saksi bisu geliat literasi ini. Naskah Warisan Skriptorium Pecenongan menghasilkan banyak karya penting, salah satunya Hikayat Sultan Taburat. Di ranah keagamaan, Naskah Al-Fatawi membuktikan bahwa Jakarta tempo dulu pernah menjadi pusat intelektual dan simpul jaringan ulama global.
Realitas kehidupan masyarakat akar rumput juga terekam indah dalam karya sastra. Teks Sair Satoe Tjerita jang Betoel Soeda Kedjadian di Tanah Betawi hadir menyuguhkan potret jujur keseharian warga Batavia kala itu. Karya yang turut menyandang status Ingatan Kolektif Nasional ini menjadi cermin bagi kita untuk melihat wajah masyarakat Betawi di tengah tekanan penguasa kolonial.
Catatan Kelam dan Terang Era Batavia
Selain naskah lokal, pameran ini juga menyoroti wajah Jakarta dari kacamata penguasa. Sejarah era Batavia sangat bergantung pada dokumen-dokumen resmi milik kongsi dagang Belanda (VOC) yang kini tersimpan aman di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Para syahbandar dan pegawai VOC di Kastel Batavia begitu telaten menulis Daghregister (Catatan Harian Batavia) sejak abad ke-17. Jurnal harian ini menjadi jendela yang memperlihatkan hiruk-pikuk lalu lintas kapal, panasnya persaingan perdagangan rempah, intrik perjanjian politik, hingga kejadian remeh-temeh sehari-hari di kota Batavia.
Sebagai alat kontrol, Gubernur Jenderal VOC saat itu juga rajin merilis Plakaatboek Batavia. Kumpulan maklumat dan tata tertib ini menjadi bukti otentik bagaimana Belanda mengatur ketat kehidupan penduduk lokal demi mempertahankan hegemoninya di tanah Jawa.
Merawat Ingatan, Menguntai Identitas
Hadirnya belasan naskah kuno di Taman Ismail Marzuki tidak sekadar memuaskan dahaga para penikmat sejarah. Festival Pustakarsa 2026 merancang ruang ini untuk memperkuat budaya literasi dan mengukuhkan sastra sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Jakarta.
Bagi generasi muda yang ingin memperdalam literatur ini tanpa kendala bahasa kuno, pameran juga menyinggung mahakarya modern. Buku Sumber-sumber Asli Sejarah Jakarta (Jilid I-III) susunan Adolf Heuken SJ menjadi jembatan emas. Buku ini menerjemahkan berbagai naskah asli dari bahasa Sanskerta, Tionghoa, Sunda Kuno, hingga Portugis ke dalam bahasa Indonesia modern.
Menyusuri pameran ini menyadarkan kita bahwa Jakarta lebih dari sekadar rimba beton. Di balik kemacetan dan gedung pencakar langitnya, kota ini menyimpan lapisan sejarah yang tebal. Lembar-lembar naskah kuno itu kini menanti untuk dibaca, dipahami, dan diwariskan kembali kepada generasi pewaris kota.***