Haul ke-15 Gus Dur Digelar 21 Desember Malam, Semua Orang Boleh Hadir

Logo peringatan Haul Gus Dur ke-15 (Foto: Dok. Wahid Foundation)
Keluarga Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, bakal menggelar agenda Haul Ke-15 Gus Dur pada Sabtu, 21 Desember 2024, di kompleks Masjid Al-Munawwaroh, Jalan Warung Silah 10, Ciganjur, Jakarta Selatan. Haul kai ini mengangkat tema “Menajamkan Nurani Membela yang Lemah”.

Zannuba Ariffah Chafsoh, atau biasa disapa Yenny Wahid, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih untuk mencerminkan salah satu nilai utama yang menjadi karakter Gus Dur, yaitu keberpihakannya kepada kelompok yang terpinggirkan, terutama mereka yang dilemahkan oleh keadaan dan sering dipandang sebelah mata.

“Setiap tahun akan ada tema-tema yang menggambarkan karakter Gus Dur selama ini. Salah satu karakter yang mengemuka adalah pembelaan Gus Dur terhadap mereka yang lemah,” kata Yenny, Jumat, 20 Desember 2024.

“Kenapa kita perlu selalu menajamkan nurani kita?” lanjut Yenny. “Karena kita sama-sama tahu tatanan masyarakat serba terbalik. Yang benar kadang dianggap salah, yang keliru dibenarkan, hanya karena diikuti banyak orang misalnya, ini oleh Gus Dur adalah sesuatu yang harus dikoreksi.”

Bacaan Lainnya

Jika minoritas mendominasi atau melakukan intimidasi, kata Yenny, Gus Dur akan menentangnya. Demikian juga mayoritas, kalau mayoritas muslim misalnya menjadi korban, maka akan dibela mati-matian oleh Gus Dur.

“Jadi, yang paling utama, Gus Dur membela mereka yang lemah, membela mereka yang dilemahkan oleh sistem atau lainnya,”tandasnya.

Gus Dur, menurut Yenny, tidak pernah membeda-bedakan siapa pun. Semua diperlakukan sama dan terhormat.

“Saya harap itu menjadi teladan kita semua. Jangan kita merasa mentang-mentang sudah populer, bisa memperlakukan orang lain yang dianggap lebih hina karena kondisi ekonominya tidak sekuat kita, lalu kita bisa intimidasi, mengejek, mempermalukan. Itu tidak boleh,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa, dalam menghadapi kehidupan yang semakin kompleks, setiap individu harus tetap berpegang pada nurani untuk membedakan mana yang benar dan salah.

“Sekarang banyak tindakan tercela, menyimpang dari norma, tindakan yang bertentangan dengan nilai agama. Seolah-olah diperbolehkan saja,” ungkap Yenny.

Pos terkait