Ekonom kawakan Kwik Kian Gie wafat di usia 90 tahun. Ia dikenal dekat dengan Gus Dur, dipercaya sebagai Menko Ekuin, namun juga pernah dianggap berbalik arah dalam pusaran kejatuhan sang presiden pluralis.
__________
Ekonom senior dan mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) era Presiden Abdurrahman Wahid, Kwik Kian Gie, meninggal dunia pada Senin malam, 28 Juli 2025 pukul 22.00 WIB. Ia tutup usia di umur 90 tahun.
Bagi banyak orang, Kwik bukan hanya seorang pengamat ekonomi yang tajam dan tegas. Ia juga sahabat dekat Gus Dur. Hubungan keduanya dibangun jauh sebelum keduanya masuk ke dunia politik. Kwik menyebut Gus Dur sebagai orang besar—pemikir yang melampaui batas-batas sektarian, bahkan sebelum menjadi presiden.
Kedekatan itu teruji dalam banyak momen, salah satunya ketika perwakilan umat Konghucu datang meminta dukungan kepada Gus Dur agar agama mereka diakui negara. Kwik yang turut mendampingi menyaksikan betapa cepat Gus Dur mengambil sikap. Bagi Gus Dur, selama sekelompok orang memegang nilai-nilai moral sebagai agama, maka keyakinan itu sah sebagai agama.
“Beliau langsung mendukung. Tak ada keraguan sedikit pun,” ujar Kwik dalam banyak kesempatan.
Tak hanya satu pandangan, keduanya juga berbagi selera musik yang sama. Mereka sama-sama penikmat orkestra klasik. Gus Dur, kata Kwik, sangat menyukai Simfoni Nomor 9.
Kebersamaan mereka berlanjut hingga ke panggung politik. Pada 1987, Gus Dur dan Kwik duduk sebagai anggota Badan Pekerja MPR. Di sana, Gus Dur dikenal enggan hadir di rapat yang dianggap penuh basa-basi. Ia hanya datang saat rapat penting, dan meminta Kwik untuk memberinya ringkasan hal-hal krusial. “Gus Dur tahu betul mana yang perlu didengar dan mana yang cuma omong kosong,” kenang Kwik.
Ketika Gus Dur terpilih sebagai presiden pada 1999, ia tak ragu menunjuk Kwik sebagai Menko Ekuin. Penunjukan itu dilakukan dalam suasana yang mengejutkan. Di Wisma Negara, seluruh ketua umum partai hadir, kecuali Kwik. Ia satu-satunya yang bukan kader partai, juga keturunan Tionghoa yang tak mengganti nama, dan beristrikan warga negara Belanda.
“Semua orang terkejut. Tapi sayalah yang paling terkejut,” ujar Kwik mengenang momen itu.
Di mata Kwik, Gus Dur adalah pemimpin langka. Humanis, pluralis, dan memiliki jaringan penasihat internasional yang benar-benar memberi masukan secara tulus. Selama mendampingi kunjungan ke luar negeri, Kwik menyaksikan sendiri bagaimana hormatnya dunia pada Gus Dur.
Kebijakan ekonomi Gus Dur pun tak luput dari sanjungan Kwik. Presiden keempat RI itu, katanya, sangat paham bahwa keadilan sosial tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar semata. Negara, menurut Gus Dur, harus hadir dan memegang kendali secukupnya. Liberalisme yang dibiarkan liar hanya akan menimbulkan ketimpangan yang makin besar.
Kwik mengingat, “Setelah saya diangkat jadi Menko, arahan pertamanya adalah: pemerintah harus jadi garda depan dalam membela keadilan.”
Namun sejarah tidak selalu berjalan mulus. Pada Juli 2000, Kwik mundur dari kabinet. Ia kemudian aktif dalam Forum Curhat Lintas Partai, yang berkembang menjadi jaringan pertemuan lintas fraksi. Forum inilah yang disebut-sebut memelopori proses politik yang berujung pada kejatuhan Gus Dur.
Dalam unjuk rasa mahasiswa di Trisakti, 24 Januari 2001, Kwik naik ke mimbar bersama Jusuf Kalla dan Bambang Sudibyo. Ketiganya sempat bicara dalam diskusi soal skandal Buloggate—yang jadi awal mula pembentukan Pansus DPR dan keluarnya Memorandum I untuk Gus Dur.
Kwik, yang dulunya ditunjuk Gus Dur sebagai “jenderal ekonomi”, akhirnya berdiri di sisi yang dianggap berseberangan. Banyak yang menilai, ia ikut membuka jalan bagi naiknya Megawati ke kursi presiden. Stigma “pengkhianatan” pun tak terhindarkan, meski ia sendiri tak pernah secara terbuka menyudutkan Gus Dur.
Bertahun-tahun setelahnya, dalam Haul ke-9 Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Kwik tetap menunjukkan hormatnya. Di hadapan para hadirin, ia berkata, “Saya tidak pernah berhenti mendengarkan dan mempelajari ucapan-ucapan Gus Dur. Beliau adalah negarawan besar.”
Kwik Kian Gie telah pergi. Namun jejak pikirannya, dan kisah rumit hubungannya dengan Gus Dur—penuh hormat, kepercayaan, namun juga luka sejarah—akan terus jadi bagian penting dari catatan bangsa.***





