Kwik Kian Gie Tutup Usia, Sahabat Gus Dur yang Pernah Jadi “Jenderal Ekonomi” dan Dianggap Mengkhianati

ILUSTRASI dibikin dengan AI | Samudrafakta

“Semua orang terkejut. Tapi sayalah yang paling terkejut,” ujar Kwik mengenang momen itu.

Di mata Kwik, Gus Dur adalah pemimpin langka. Humanis, pluralis, dan memiliki jaringan penasihat internasional yang benar-benar memberi masukan secara tulus. Selama mendampingi kunjungan ke luar negeri, Kwik menyaksikan sendiri bagaimana hormatnya dunia pada Gus Dur.

Kebijakan ekonomi Gus Dur pun tak luput dari sanjungan Kwik. Presiden keempat RI itu, katanya, sangat paham bahwa keadilan sosial tidak bisa diserahkan pada mekanisme pasar semata. Negara, menurut Gus Dur, harus hadir dan memegang kendali secukupnya. Liberalisme yang dibiarkan liar hanya akan menimbulkan ketimpangan yang makin besar.

Bacaan Lainnya

Kwik mengingat, “Setelah saya diangkat jadi Menko, arahan pertamanya adalah: pemerintah harus jadi garda depan dalam membela keadilan.”

Namun sejarah tidak selalu berjalan mulus. Pada Juli 2000, Kwik mundur dari kabinet. Ia kemudian aktif dalam Forum Curhat Lintas Partai, yang berkembang menjadi jaringan pertemuan lintas fraksi. Forum inilah yang disebut-sebut memelopori proses politik yang berujung pada kejatuhan Gus Dur.

Dalam unjuk rasa mahasiswa di Trisakti, 24 Januari 2001, Kwik naik ke mimbar bersama Jusuf Kalla dan Bambang Sudibyo. Ketiganya sempat bicara dalam diskusi soal skandal Buloggate—yang jadi awal mula pembentukan Pansus DPR dan keluarnya Memorandum I untuk Gus Dur.

Kwik, yang dulunya ditunjuk Gus Dur sebagai “jenderal ekonomi”, akhirnya berdiri di sisi yang dianggap berseberangan. Banyak yang menilai, ia ikut membuka jalan bagi naiknya Megawati ke kursi presiden. Stigma “pengkhianatan” pun tak terhindarkan, meski ia sendiri tak pernah secara terbuka menyudutkan Gus Dur.

Bertahun-tahun setelahnya, dalam Haul ke-9 Gus Dur di Pesantren Tebuireng, Kwik tetap menunjukkan hormatnya. Di hadapan para hadirin, ia berkata, “Saya tidak pernah berhenti mendengarkan dan mempelajari ucapan-ucapan Gus Dur. Beliau adalah negarawan besar.”

Kwik Kian Gie telah pergi. Namun jejak pikirannya, dan kisah rumit hubungannya dengan Gus Dur—penuh hormat, kepercayaan, namun juga luka sejarah—akan terus jadi bagian penting dari catatan bangsa.***

Pos terkait