Vidi Aldiano Meninggal Dunia, Perjalanan Panjang Melawan Kanker Ginjal Stadium 3

Vidi Aldiano. - Instagram @vidialdiano
Penyanyi Vidi Aldiano meninggal dunia pada Sabtu (7/3/2026) pukul 16.33 WIB dalam usia 35 tahun setelah berjuang melawan kanker ginjal stadium 3 sejak 2019 .

Kabar duka ini pertama kali mencuat setelah komposer Andi Rianto menuliskan pesan melalui akun X pribadinya, kemudian dikonfirmasi langsung oleh sang ayah, Harry Kiss. “Telah wafat anak saya: OXAVIA ALDIANO bin HARRY APRIANTO. Vidi wafat didampingi seluruh keluarga besar yang ikhlas akan kepergiannya menghadap Allah SWT, 7 Maret jam 16:33. Selamat Jalan Menuju Cahaya Ilahi Nak,” demikian bunyi pesan yang diterima Media Indonesia.

Rekan musisi dan artis berdatangan ke rumah duka di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, sejak Sabtu malam. Penyanyi Rizky Febian, Marion Jola, Afgan, Armand Maulana, serta aktor Dion Wiyoko dan Prilly Latuconsina terlihat hadir memberikan penghormatan terakhir.

Sherina Munaf mengunggah foto kebersamaan di Instagram dengan pesan emosional. “I love you so much my bestfriend. I love you so so much,” tulisnya. Isyana Sarasvati juga menyampaikan duka melalui unggahan story dengan video hitam putih bertuliskan “Rest in Love, Vidi“.

Bacaan Lainnya

Deddy Corbuzier menuliskan pesan haru di Instagram @mastercorbuzier, “My heart is broken. Badly broken. You gone too soon… Beautiful soul… Vidi Aldiano. I hate my self for not knowing you longer than I should,” tulisnya.

Perjalanan Panjang Melawan Kanker Ginjal

Vidi Aldiano pertama kali didiagnosis mengidap kanker ginjal stadium 3 pada Desember 2019 . Diagnosis bermula pada Oktober 2019 ketika ia memeriksakan diri setelah mengalami kehilangan suara. Dokter menemukan tekanan darahnya tiba-tiba tinggi, sesuatu yang janggal karena ia tidak memiliki riwayat hipertensi dalam keluarga.

Pemeriksaan lanjutan di Singapura melalui USG menemukan benjolan sekitar 5 sentimeter di ginjal kirinya. Vidi menjalani operasi pengangkatan ginjal kiri (nefrektomi) pada akhir 2019 di Singapura.

Meski ginjal kiri telah diangkat, sel kanker dilaporkan sempat menyebar ke bagian tubuh lainnya . Vidi menjalani kemoterapi rutin setiap tiga minggu sekali serta terapi detoksifikasi di Thailand . Ia juga menjalani sepuluh sesi radiasi untuk mengontrol perkembangan sel kanker.

Dalam beberapa bulan terakhir, Vidi menjalani protokol pengobatan baru yang memberikan dampak signifikan pada kesehariannya. “Memang karena obat baru ini keseharian aku sekarang jadi jauh lebih ‘menarik’. Aku lagi dalam proses untuk enduring pain everyday, enduring every side effect yang baru muncul beberapa bulan ini,” ungkapnya kala itu.

Meski demikian, Vidi tetap menunjukkan sikap optimistis. “Memang perjalanannya tidak mudah, tetapi aku rasa semua doa dari keluarga, sahabat, kalian itu yang membuat aku semakin semangat. Terima kasih teman-teman yang selalu mendukung saya, yang selalu mendoakan saya. Semoga Tuhan selalu bisa membalas semua kebaikan teman-teman semuanya juga,” kata Vidi dalam salah satu pesan menyentuhnya.

Apa Itu Kanker Ginjal?

Kanker ginjal adalah pertumbuhan sel tidak normal di jaringan ginjal yang dapat berkembang menjadi tumor ganas dan menyebar ke organ lain jika tidak segera ditangani. Jenis yang paling umum adalah renal cell carcinoma (RCC), yang mencakup 80-90 persen dari total kasus kanker ginjal.

Pada 2025, diperkirakan ada 80.980 kasus baru kanker ginjal di Amerika Serikat dengan 14.510 kematian. Penyakit ini sering disebut “silent killer” karena gejalanya baru muncul saat sudah stadium lanjut. Sebanyak 30-40 persen kasus terdeteksi secara tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan rutin.

Faktor Risiko Kanker Ginjal

Merokok menjadi faktor risiko paling umum. Perokok aktif memiliki risiko 1,5 hingga 2,5 kali lebih besar terkena kanker ginjal dibandingkan non-perokok. Risiko menurun setelah berhenti merokok.

Obesitas meningkatkan risiko melalui gangguan hormonal. Meta-analisis menunjukkan risiko kanker ginjal naik 1,35 kali pada berat berlebih dan 1,76 kali pada obesitas. Hipertensi jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal, dengan sekitar 18 persen kasus kanker ginjal dikaitkan dengan tekanan darah tinggi.

Riwayat keluarga meningkatkan risiko 4-5 kali lipat. Pasien dengan penyakit ginjal kronis atau menjalani dialisis jangka panjang juga berisiko lebih tinggi . Paparan bahan kimia seperti kadmium dan trikloroetilen di tempat kerja turut berkontribusi.

Gejala dan Deteksi Dini

Kanker ginjal sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal . Gejala klasik yang muncul saat stadium lanjut meliputi darah dalam urine (hematuria), nyeri punggung bawah di satu sisi, dan benjolan di perut atau pinggang. Ketiga tanda ini hanya muncul bersamaan pada 10-15 persen pasien dan mengindikasikan penyakit lanjut.

Gejala lain meliputi penurunan berat badan tanpa sebab jelas, kelelahan ekstrem, kehilangan nafsu makan, demam tak kunjung sembuh, dan anemia.

Deteksi dini dapat dilakukan melalui pemeriksaan USG, CT scan, atau MRI, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko. Jika terdeteksi pada stadium 1, angka kesembuhan mencapai 80-90 persen.

Pencegahan Kanker Ginjal

Pencegahan dapat dimulai dengan berhenti merokok dan menjauhi asap rokok . Menjaga berat badan ideal melalui pola makan sehat dan olahraga rutin juga penting .

Mengontrol tekanan darah, membatasi paparan bahan kimia berbahaya di tempat kerja, dan melakukan pemeriksaan kesehatan rutin terutama bagi kelompok berisiko tinggi merupakan langkah pencegahan efektif.***

Pos terkait