Iran tolak negosiasi dengan AS. Pengamat UPN sebut ini akibat krisis kepercayaan usai rentetan pengkhianatan diplomasi.
Keputusan Iran menutup rapat pintu negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) memantik perhatian berbagai pihak. Pengamat Hubungan Internasional dari UPN Veteran Jakarta, Asep Kamaluddin, menilai sikap keras Teheran ini lahir dari krisis kepercayaan yang mendalam akibat rentetan kegagalan diplomasi di masa lalu.

Menurut Asep, langkah Iran memboikot perundingan merupakan reaksi logis dari hancurnya rasa saling percaya antarnegara. Teheran merasa AS telah mengkhianati kesepakatan karena kerap melancarkan operasi militer yang menyasar kedaulatan Iran, tepat ketika proses diplomasi sedang berjalan.
”Penutupan negosiasi oleh Iran bukanlah hal yang mengejutkan secara teoritis. Dalam kajian HI, kita memahaminya sebagai bentuk total breakdown of trust,” ujar Asep di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Oleh karena itu, Asep memandang diplomasi tidak lagi memiliki nilai tawar di mata Iran. Sebagai gantinya, Teheran kini beralih menggunakan strategi penangkalan (deterrence) secara penuh.
”Di sini diplomasi tidak lagi memiliki nilai tawar. Yang berujung Iran menggunakan strategi deterrence total karena merasa instrumen hukum internasional gagal melindungi mereka,” tegasnya.
Ancaman Perang Regional dan Sikap China-Rusia
Lebih lanjut, Asep memperingatkan bahwa kebuntuan diplomasi ini berpotensi memicu fragmentasi geopolitik yang masif di kawasan Timur Tengah. Konflik yang awalnya hanya melibatkan dua negara bisa dengan mudah membesar dan menyeret berbagai aktor internasional.
”Kita akan melihat polarisasi yang semakin tajam, adanya keterlibatan NATO, dan aktor nonnegara (seperti di Lebanon) berisiko menjadikan perang ini bukan konflik bilateral, namun menjadi konflik regional yang berisiko menyeret kekuatan global lainnya,” papar Asep.





