MUI dan PBNU Dukung Semua Mantan Presiden Wafat Jadi Pahlawan Nasional

Ketua MUI Bidang Fatwa KH. Asrorun Niam Sholeh. - Istimewa
Dukungan untuk Soeharto muncul di tengah perdebatan publik soal rekam jejak Orde Baru.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan semua mantan Presiden RI yang telah wafat layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Alasannya, masing-masing tokoh dinilai telah memberi jasa besar dalam memimpin bangsa di masanya.

Ketua MUI Bidang Fatwa KH Asrorun Niam Sholeh mengatakan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pemimpinnya, bukan yang sibuk membuka luka lama.

“Setiap zaman ada tokoh pahlawannya. Kita harus menghargai perjuangan para pemimpin bangsa, termasuk para mantan presiden yang telah memimpin Indonesia. Mereka adalah pahlawan bagi bangsa Indonesia — Pak Karno, Pak Harto, Pak Habibie, dan Gus Dur,” ujarnya di Jakarta, Rabu (5/11).

Bacaan Lainnya

Niam menilai, sikap Presiden Prabowo Subianto yang membuka ruang dialog dan merangkul berbagai pandangan dalam wacana pemberian gelar pahlawan nasional mencerminkan jiwa kenegarawanan. “Dalam ajaran Islam, kita dianjurkan mengenang kebaikan orang yang telah wafat, terutama jika mereka pemimpin yang berjasa bagi umat dan bangsa,” tambahnya.

Senada, Ketua PBNU Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur menyebut bangsa Indonesia perlu meneladani masa lalu untuk membangun masa depan. Ia mendukung langkah Kementerian Sosial yang mengusulkan Soeharto dan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional.

“Dalam tradisi Islam ada kaidah penting: al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah — menjaga yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik,” kata Gus Fahrur.

Namun, dukungan itu tidak bulat. Savic Ali, Ketua PBNU Bidang Media, IT, dan Advokasi masa khidmah 2022–2026, menentang keras langkah Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang memproses pengusulan Soeharto.

“Sebagai Sekjen PBNU, mestinya ia menolak, mengingat sejarah kekerasan Orba terhadap kiai dan warga Nahdliyin,” tulis Savic di Facebook, 23 Oktober 2025. Ia bahkan meminta Gus Ipul mundur dari jabatan Sekjen PBNU agar tak tercatat ikut menobatkan Soeharto sebagai pahlawan.

Pos terkait