Green Jobs: Masa Depan Pekerjaan Indonesia di Era Ekonomi Hijau

Masa depan kerja tak hanya soal teknologi — tapi tentang bagaimana manusia menjaga bumi tetap bernapas. Green jobs bukan tren, melainkan arah baru peradaban. - Ilustrasi dibuat menggunakan SORA
Dunia kerja tengah berubah. Pekerjaan masa depan bukan lagi sekadar soal gaji, tapi tentang bagaimana kita menjaga bumi tetap hidup.

Pekerjaan hijau atau green jobs kini menjadi topik besar di banyak negara, termasuk Indonesia. Menurut International Labour Organization (ILO), green jobs adalah pekerjaan layak yang berkontribusi terhadap pelestarian atau pemulihan lingkungan. Artinya, pekerjaan hijau tak hanya ada di bidang energi surya atau angin, tapi juga di pertanian, manufaktur, transportasi, hingga jasa keuangan—asal proses kerjanya efisien, hemat energi, dan minim limbah.

Laporan World Employment and Social Outlook memperkirakan, transisi menuju ekonomi rendah karbon dapat menciptakan lebih dari 24 juta lapangan kerja baru di dunia pada 2030. Sebagian besar di sektor energi, pertanian, dan pengelolaan limbah.

Di Indonesia, peluang ini semakin terbuka. Program transisi energi nasional, pengelolaan sampah terpadu, hingga dekarbonisasi industri memberi ruang bagi munculnya profesi baru. Namun, masih ada satu tantangan besar: kesenjangan keterampilan. Banyak lulusan belum memiliki green skills—kemampuan memahami efisiensi energi, manajemen limbah, ekodesain, atau teknologi bersih.

Bacaan Lainnya
Langkah Kemendiktisaintek: Menyemai Kesadaran Sejak Dini

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mulai bergerak menyiapkan fondasi green jobs lewat Science Film Festival 2025, bekerja sama dengan Goethe-Institut dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Festival ini digelar di 70 kota, menargetkan siswa SD hingga SMA. Melalui film dan eksperimen sains, anak-anak diajak mencintai sains dan lingkungan—dua hal yang akan melahirkan generasi green talent.

Dalam konferensi pers di Jakarta, 4 November 2025, Prof. Ardi Findyartini, Direktur Sistem Pembelajaran Transformasi Ditjen Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan beasiswa khusus bidang green jobs.

“Kita akan pertimbangkan tentunya, karena bukan hanya untuk S2 dan S3, tapi juga untuk bidang-bidang S1,” ujar Prof. Ardi.

Pos terkait