Gencatan senjata AS-Iran berakhir Selasa malam waktu setempat. Trump ancam hancurkan ‘setiap pembangkit listrik dan jembatan’ di Iran jika tak tercapai kesepakatan, sementara Teheran tolak negosiasi di bawah ancaman.
Ketegangan AS dan Iran memasuki titik kritis menjelang berakhirnya masa gencatan senjata dua pekan yang hanya tersisa satu hari lagi, tepatnya Selasa malam waktu Timur AS atau Rabu pagi (22/4/2026) WIB.
Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman kontroversial di Truth Social pada 19 April 2026. “Kami menawarkan KESEPAKATAN yang sangat adil. Jika tidak, Amerika Serikat akan menghancurkan setiap pembangkit listrik dan setiap jembatan di Iran. NO MORE MR. NICE GUY!” tulis Trump dengan huruf kapital.
Trump juga mengklaim Iran kehilangan USD500 juta per hari akibat blokade laut yang diberlakukan AS. Ia menegaskan blokade tidak akan dicabut sebelum kesepakatan formal tercapai.
Kontroversi Ancaman Kejahatan Perang
Pernyataan Trump menuai reaksi keras dari dalam negeri AS. Senator Chris Van Hollen menulis di X: “Sekali lagi, Trump mengancam kejahatan perang terhadap rakyat Iran”.
Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, membela ancaman tersebut. Dalam wawancara dengan ABC News, Waltz menyebut infrastruktur Iran adalah “target sah” karena digunakan untuk kepentingan militer. Ia menilai tuduhan kejahatan perang sebagai “konyol dan tidak bertanggung jawab”.
Amnesty International merespons dengan pernyataan keras. Sekjen Amnesty Agnes Callamard menyebut ancaman Trump “mengoyak habis aturan inti hukum humaniter internasional” dan dapat digolongkan sebagai ancaman genosida.
Iran Tolak Negosiasi di Bawah Ancaman
Di kubu Iran, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan dengan tegas: “Kami tidak menerima negosiasi di bawah bayang-bayang ancaman. Trump mencoba mengubah meja negosiasi menjadi meja penyerahan diri melalui blokade dan pelanggaran gencatan senjata”.
Ghalibaf juga memperingatkan bahwa Iran telah menyiapkan “kartu-kartu baru di medan perang” selama dua pekan terakhir.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian melalui X menyatakan: “Menepati janji adalah fondasi dialog yang bermakna. Sinyal terbaru AS tidak konstruktif dan kontradiktif. Mereka ingin penyerahan Iran, tetapi rakyat Iran tidak akan tunduk pada kekerasan”.
Situasi Selat Hormuz Memanas
Kebuntuan diplomasi diperparah oleh ketegangan di Selat Hormuz. Menteri Luar Iran Abbas Araghchi sempat mengumumkan pembukaan selat untuk kapal komersial pada 17 April 2026, namun militer Iran membatalkannya sehari kemudian. Militer menyatakan setiap upaya mengakses selat akan dianggap “kerja sama dengan musuh”.
Trump merespons dengan menuduh Iran melakukan “pelanggaran total” terhadap gencatan senjata.
Dengan batas waktu yang tinggal hitungan jam, dunia menanti langkah selanjutnya. AS bersikeras mengirim delegasi ke Islamabad, sementara Iran menegaskan tidak akan hadir sebelum blokade laut dicabut dan ancaman dihentikan .***





