Slogan ‘Bismillah’ Viral di Prancis, Trump Salahkan Imigran dan Islam

Para pelajar sekolah menengah dan mahasiswa Prancis memegang poster bertuliskan "Bismillah c'est les tenebres" (Bismillah, ini adalah kegelapan) dalam sebuah unjuk rasa di Nantes, Prancis, pada 15 Oktober 2026. (Stephane Mahe/Reuters)

Presiden AS Donald Trump menuding gejolak demo pelajar di Prancis akibat imigrasi tak terkendali dan Islam. Prancis bantah tudingan yang tak berdasar tersebut.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menolak pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengaitkan demonstrasi pelajar di negaranya dengan isu imigrasi massal dan Islam.

Barrot menegaskan, Prancis harus menyampaikan narasinya sendiri terkait situasi domestiknya, alih-alih menjadi sasaran narasi pihak luar.

“Kalian akan mendapatkan versi Iran, mungkin versi sejumlah pihak Israel, mungkin pula versi sejumlah pihak Amerika,” kata Barrot di hadapan komite parlemen, pada Selasa, 6 Oktober 2026.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya, melalui media sosial Truth Social pada Selasa, 6 Oktober 2026, Trump menyebut gejolak di Prancis bukan soal pendidikan. Ia menuding kerusuhan itu akibat imigrasi tak terkendali dan Islam yang berupaya mengambil alih negara tersebut.

“Apa yang terjadi di Prancis tidak lain adalah imigrasi massal yang tidak terkendali. Ini bukan tentang sekolah, ini tentang Islam yang ingin mengambil alih negara yang dahulu besar!” ujar Trump.

Namun, tidak ada bukti yang memperkuat tudingan Trump tersebut. Gelombang demonstrasi di Prancis yang dimulai pada akhir September 2026 justru menuntut perbaikan kondisi sekolah, meski akhirnya diwarnai bentrokan.

Simbol Sindiran “Bismillah, c’est les ténèbres”

Di sisi lain, slogan “Bismillah, c’est les ténèbres” mendadak viral di tengah demonstrasi ini. Slogan berbahasa Arab dan Prancis yang berarti “Dengan nama Allah, inilah kegelapan” itu, bermula dari tangkapan layar di Snapchat.

Sebuah akun bernama Mamadou diduga menyusup ke grup pelajar dan menggunakan kalimat tersebut untuk menanyakan jadwal aksi pemblokiran sekolah. Pengguna itu menulis, “Salut! Bismillah c’est les ténèbres. C’est quand le blocus wallah mon frangin. On va tous casser. Met moi dans le groupe blocus Aichek.”

Gaya bahasa yang janggal dan terkesan memaksakan itu, segera dicurigai sebagai upaya polisi meniru gaya bicara anak muda dari kawasan pinggiran kota. Slogan itu pun menjadi bahan olok-olok dan disulap menjadi meme serta poster di jalanan untuk menyindir dugaan pengawasan aparat.

Tanggapan Presiden Macron

Merespons memanasnya situasi, Presiden Prancis Emmanuel Macron dijadwalkan menyampaikan pidato pada Ahad, 18 Oktober 2026. Hal itu ia lakukan usai aksi demo berujung kerusuhan massal pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Sebelumnya, Macron menegaskan bahwa tindakan vandalisme, penjarahan, maupun penyerangan fasilitas akan dihukum tegas.

“Mereka yang melakukan vandalisme, menyerang kantor administrasi atau tempat usaha, maupun melakukan penjarahan, bahkan di kantor-kantor pemerintahan kota akan dituntut dan dihukum,” ujar Macron.

Menteri Dalam Negeri Prancis menyebut, lebih dari 1.800 orang ditahan dan sekitar 500 polisi terluka akibat demonstrasi. “Mereka yang melakukan vandalisme… akan dituntut dan dihukum,” ucap Macron.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan