Strategi Hadapi Keterbatasan Pakan Ternak saat Kemarau

Pakan Ternak di Musim Kemarau
Akademisi Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Dr Djoko Legowo drh MKes. (Dinkominfo Surabaya)

Penurunan produksi hijauan pakan ternak yang mencapai 60 persen akibat musim kemarau berkepanjangan mendesak para peternak untuk mengadopsi teknik pengawetan pakan. Pemanfaatan metode fermentasi dan pembentukan kelompok peternak dinilai menjadi strategi krusial untuk menjaga kelangsungan usaha peternakan.

Para peternak di Indonesia menghadapi tantangan berat dalam memenuhi kebutuhan pakan seiring berkurangnya curah hujan. Terbatasnya ketersediaan rumput segar di alam tidak hanya berpotensi mengancam pemenuhan nutrisi hewan ternak, tetapi juga menambah beban ekonomi para pengelola usaha.

Akademisi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair), Djoko Legowo, menyatakan bahwa penyusutan pakan segar pada musim kering menyentuh tingkat yang signifikan.

“Ketersediaan hijauan pakan ternak saat musim kemarau di Indonesia mengalami penurunan drastis, dengan produksi hijauan segar merosot tajam 30–60 persen,” kata Djoko pada Senin (19/10).

Bacaan Lainnya

Strategi Fermentasi dan Cadangan Pakan

Menghadapi keterbatasan pasokan tersebut, Djoko menyarankan peternak untuk mengantisipasi krisis dengan menyiapkan cadangan pakan sejak musim penghujan. Beberapa metode yang dianjurkan meliputi pembuatan silase atau fermentasi hijauan, pengolahan hijauan kering (hay), hingga pemanfaatan sisa pertanian lokal seperti jerami padi dan tebon jagung.

Proses fermentasi dinilai tidak sekadar mengawetkan, tetapi juga meningkatkan daya guna bahan pakan. Teknik ini membantu menguraikan komponen serat kasar sehingga nutrisi pakan lebih mudah diserap oleh sistem pencernaan hewan ternak.

“Tapai bisa dicerna lebih baik. Jadi, bahan-bahan yang kering itu nilai gizinya jadi lebih baik sesudah ditelan,” tutur Djoko merujuk pada prinsip kerja fermentasi pakan.

Pentingnya Kelompok Ternak

Pandangan serupa disampaikan oleh akademisi dari fakultas yang sama, Kadek Rachmawati. Ia menekankan bahwa penerapan manajemen pakan yang berkelanjutan adalah kunci utama untuk bertahan saat lingkungan tidak menyediakan hijauan segar yang memadai.

Guna mempermudah transfer pengetahuan dan penanganan kendala di lapangan, Kadek mendorong para peternak untuk menyatukan diri dalam wadah kelompok ternak. Komunitas ini diharapkan dapat berfungsi sebagai pusat pertukaran informasi sekaligus jalur koordinasi dengan lembaga terkait.

“Saran dari kami, untuk memudahkan, silakan Bapak dan Ibu membentuk kelompok ternak. Kelompok tersebut bisa menjadi ajang diskusi ketika terjadi suatu kasus,” ujarnya.

Melalui kelompok kolektif tersebut, peternak akan lebih mudah mendapatkan intervensi langsung dari pemerintah daerah maupun institusi pendidikan tinggi.

“Jadi, kalau terjadi sesuatu, bisa mengundang pihak dinas atau bahkan dari kami sehingga kami akan datang membantu,” pungkas Kadek.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan