Momentum Hari Kartini dimaknai ulang—perempuan kini ditantang menjaga keseimbangan peran di tengah derasnya arus digital dan perubahan generasi.
Peringatan Hari Kartini tak lagi sekadar mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini membuka akses pendidikan bagi perempuan. Di era modern, makna emansipasi bergeser: dari membuka pintu kesempatan menjadi menjaga keseimbangan peran di tengah dunia yang kian kompleks.
Di Surabaya, sinergi antara Pemerintah Kota (Pemkot) dan Tim Penggerak (TP) PKK terus diperkuat untuk menjawab tantangan tersebut. Ketua TP PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, menilai Hari Kartini sebagai momentum refleksi atas perubahan besar peran perempuan masa kini.
Menurutnya, jika dulu perempuan berjuang melawan keterbatasan akses pendidikan dan budaya, kini tantangan justru hadir dalam bentuk yang lebih kompleks. Perempuan hidup di tengah kelimpahan peluang—akses pendidikan terbuka luas, ruang berkarya semakin lebar, dan kesempatan berkembang tanpa sekat.
Namun, kemajuan itu tidak otomatis menyederhanakan peran.
“Perjuangan Kartini hari ini bukan lagi soal membuka akses, tetapi bagaimana memanfaatkan peluang tanpa kehilangan peran di dalam keluarga,” ujar Rini, Selasa (21/4/2026).
Keseimbangan Jadi Kunci
Di tengah perubahan tersebut, perempuan dituntut mampu memainkan dua peran sekaligus: sebagai individu yang berkembang di ruang publik dan sebagai pilar keluarga.
Rini menegaskan, keseimbangan menjadi kunci agar perempuan tetap berkontribusi tanpa mengabaikan peran domestik yang strategis.
Tantangan kian terasa di era digital. Jika dulu kekhawatiran orang tua terbatas pada lingkungan fisik, kini ruang tumbuh anak meluas hingga dunia maya. Dalam kondisi ini, peran ibu tidak lagi cukup sebagai pengawas, tetapi harus hadir aktif dalam dinamika kehidupan anak.
“Orang tua harus memahami dunia anak, termasuk apa yang mereka akses melalui gawai. Teknologi bisa membawa manfaat besar, tapi juga berisiko jika tidak diarahkan,” jelasnya.
Ia menekankan, teknologi memiliki dua sisi: peluang sekaligus ancaman. Perempuan, terutama ibu, diharapkan menjadi “tameng” yang mengarahkan, bukan membatasi secara kaku.





