Eka Hardiyanti Suteja (35) menjadi satu-satunya pengemudi perempuan Suroboyo Bus. Enam tahun mengemudi, ia buktikan perempuan mampu berkarya di sektor transportasi.
Di saat Surabaya masih diselimuti gelap, Eka Hardiyanti Suteja sudah bersiap mengemudikan Suroboyo Bus. Perempuan 35 tahun itu menjadi potret nyata emansipasi dengan menembus sekat profesi yang selama ini identik dengan laki-laki.
Eka memulai hari sejak pukul 03.00 dini hari. Ia berangkat sebelum pukul 04.00 ke titik awal operasional, lalu mulai melayani penumpang keliling Kota Pahlawan sekitar pukul 05.30.
Ia bukan pendatang baru di balik kemudi. Sebelum menjadi pengemudi bus pada 2020, Eka mengawali karier sebagai pengemudi taksi. Saat peluang untuk perempuan dibuka, ia tak ragu mendaftar.
“Saya coba, dan alhamdulillah diterima,” ujar Eka di Surabaya, Kamis (23/4/2026).
Adaptasi Ukuran Kendaraan dan Emosi Penumpang
Mengoperasikan bus berukuran besar bukan perkara gampang bagi Eka pada masa awal. Adaptasi menyangkut dimensi kendaraan serta penguasaan medan jalan menjadi fokus utamanya. Setelah lolos tes dan pendampingan, ia akhirnya dipercaya mengemudi sendiri.
Hampir enam tahun berlalu, pekerjaan itu justru memberinya kenyamanan. Rekan kerja yang solid dan penumpang yang ramah membuat Eka betah. “Rasanya seperti jalan-jalan, tapi dibayar,” katanya.
Di balik kemudi, Eka tak jarang menjadi pusat perhatian. Kekaguman penumpang kerap tertuang dalam pujian dan acungan jempol. “Awal-awal memang ada yang meragukan. Tapi sekarang justru banyak yang mendukung,” ungkapnya.
Sebagai ibu dari satu anak, Eka tetap menjalankan tanggung jawab domestik. Ia membagi waktu dengan mengantar sang buah hati di sela rutinitas pagi sebelum bertugas.
Eka menyadari jumlah pengemudi perempuan Suroboyo Bus masih sangat terbatas. Kondisi itu tak menyurutkan langkahnya. Ia justru ingin membuka jalan bagi perempuan lain agar berani mengambil peran di ruang publik.
“Semangat R.A. Kartini itu berani dan menginspirasi. Perempuan harus terus maju,” tegasnya.***





