Pemkot Surabaya Fasilitasi Seniman, Ludruk dan Reog Makin Eksis

Ludruk dan Reog
Penampilan kesenian ludruk di salah satu acara di Surabaya. (Diskominfo Surabaya)
Pemerintah Kota Surabaya konsisten memfasilitasi pelestarian seni tradisi lokal. Dukungan ini membuat eksistensi seniman ludruk dan reog semakin meroket dari tahun ke tahun.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus memperkuat dukungan bagi kelestarian seni tradisi lokal. Fasilitas dan program pemerintah menjadi motor penggerak utama yang menjaga eksistensi kesenian ludruk dan reog di kota tersebut.

Pendiri Komunitas Ludruk Luntas Robert Bayonet menilai dukungan dari Pemkot Surabaya sudah dirasakan oleh pelaku seni. Fasilitasi ini mengalir lancar melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata.

Bacaan Lainnya

“Selama ini yang diberikan cukup bagus juga terhadap seni tradisi, khususnya ludruk ini juga diperhatikan,” ujar Robert, Senin (8/6/2026).

Bentuk dukungan nyata tersebut salah satunya terwujud lewat program Ludruk Merdeka. Pemerintah memfasilitasi kelompok seniman untuk menggelar pementasan keliling secara bergiliran di sepuluh kawasan kampung berbeda.

Terkait peminjaman ruang ekspresi seperti Gedung Nasional Indonesia (GNI) maupun Balai Pemuda, Robert mengaku prosesnya sangat mudah asalkan seniman menaati prosedur administrasi resmi yang telah ditetapkan.

Transformasi Dewan Kesenian

Para seniman turut menyambut positif rencana pemerintah daerah yang ingin mentransformasi Dewan Kesenian menjadi Dewan Kebudayaan Surabaya. Langkah strategis ini dinilai mampu memperluas cakupan pelestarian budaya.

Ketua Perhimpunan Unit-Unit Reog Kota Surabaya Budi Sutrisno mendukung penuh wacana kelembagaan baru tersebut. Ia sangat berharap transformasi ini membawa dampak positif bagi kemajuan seluruh sektor kesenian.

“Kalau memang ini untuk kemajuan kesenian reog dan kesenian yang lainnya, kami dari kesenian reog sangat setuju,” ujar Budi.

Pria yang disapa Mas Tris ini berharap Pemkot Surabaya tidak sekadar menyalurkan bantuan fasilitas fisik. Seniman juga membutuhkan ruang dialog rutin seperti sarasehan guna merumuskan arah kebijakan budaya secara inklusif.

Mas Tris mencatat bahwa atmosfer pertunjukan seni tradisi di Surabaya saat ini makin menggeliat. Hal ini dibuktikan dengan padatnya jadwal pentas reog yang rutin mengudara setiap akhir pekan dan hari libur.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan