Tanpa Disadari, Ini Gejala Kecanduan Belanja di Era Digital

kecanduan-belanja-online
Ilustrasi kecanduan belanja secara online. Foto dibuat Gemini
Kemudahan berbelanja di era digital membawa konsekuensi baru: meningkatnya perilaku belanja kompulsif. Akses cepat, promo yang masif, serta metode pembayaran non-tunai membuat banyak orang berbelanja tanpa perencanaan.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu kelompok. Sejumlah penelitian menunjukkan mahasiswa dan perempuan menjadi kelompok yang cukup rentan mengalami kecanduan belanja online.

Dosen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (FIK UMSURA), Uswatun, menjelaskan bahwa perilaku tersebut kerap tidak disadari sejak awal. Namun jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi kecanduan.

“Perilaku ini mirip dengan kecanduan lain karena melibatkan dorongan impulsif yang sulit dikendalikan,” ujar Uswatun seperti dilansir laman UMSURA, dikutip Rabu (22/4/2025).

Bacaan Lainnya

Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), belanja kompulsif memang belum diklasifikasikan sebagai gangguan mental tersendiri. Namun, gejalanya menunjukkan pola gangguan kontrol impuls, yakni ketidakmampuan menahan dorongan untuk membeli sesuatu meski tidak dibutuhkan.

Gejala yang Perlu Diwaspadai

Uswatun memaparkan sejumlah gejala kecanduan belanja yang kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, pembelian impulsif tanpa perencanaan. Banyak barang dibeli secara spontan, bahkan belum sempat digunakan sudah menumpuk.

Kedua, muncul rasa senang berlebihan atau euforia saat berbelanja. Sensasi ini bukan berasal dari barang yang dibeli, melainkan dari aktivitas membeli itu sendiri. Ketiga, menjadikan belanja sebagai pelarian dari stres atau emosi negatif. Kondisi psikologis yang tidak nyaman sering dialihkan dengan aktivitas belanja.

Keempat, muncul rasa bersalah setelah berbelanja. Perasaan ini biasanya datang karena pembelian yang tidak sesuai kebutuhan. Kelima, penggunaan metode pembayaran non-tunai seperti kartu atau dompet digital yang membuat seseorang tidak menyadari besarnya pengeluaran.

Dampak Jangka Panjang

Jika tidak dikendalikan, kecanduan belanja dapat berdampak serius. Mulai dari masalah keuangan, penyesalan berkepanjangan, hingga gangguan hubungan sosial. “Perilaku ini juga sering muncul bersamaan dengan kondisi lain seperti depresi, kecemasan, hingga gangguan makan,” jelas Uswatun.

Untuk mencegah kondisi semakin parah, Uswatun menyarankan pentingnya mengenali pemicu kebiasaan belanja.

“Identifikasi apakah dorongan belanja muncul karena stres, kesepian, atau keinginan mendapatkan pengakuan sosial. Dengan begitu, seseorang bisa mulai mengontrol perilakunya,” pungkasnya.***

Pos terkait