Pembunuhan Ismail Haniyeh: Mahmoud Ahmadinejad Sebut Israel Punya Banyak Kaki Tangan di Iran, Hingga Potensi Perang Regional

TEHERAN — Peristiwa pembunuhan Kepala Biro Politik Hamas Ismail Haniyeh yang diduga kuat dilakukan Israel pada Selasa (30/7/2024), mengingatkan pada ucapan Mahmoud Ahmadinejad. Mantan Presiden Iran itu pernah membuat pernyataan bahwa agen-agen zionis Israel telah menyusup ke badan kontra intelijen Iran.

Pernyataan Ahmadinejad disampaikan pada Juni 2021. Ahmadinejad blakblakan menyebuit bahwa agen-agen Israel telah menyusup ke badan kontra intelijen Iran. Menurut dia, penyusupan itu khususnya terjadi di departemen yang ditugaskan untuk menggagalkan spionase Israel.

Mantan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad. Foto:X @Ahmadinejad1956

Komentarnya kala itu muncul untuk merespons pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh di Teheran pada November 2020, yang diduga dilakukan oleh badan intelijen Israel; Mossad. Pola pembunuhan Fakhrizadeh dan Haniyeh juga mirip, yakni menggunakan rudal presisi.

Ahmadinejad saat itu menuduh para pejabat di badan-badan intelijen Iran berusaha menutupi jejak para pembunuh Fakhrizadeh. “Operasi besar-besaran Israel menggunakan sekelompok personel keamanan yang korup di eselon atas intelijen nasional,” katanya.

Bacaan Lainnya

Senada dengan analisa tersebut, mantan menteri intelijen Iran era presiden reformis Mohammad Khatami (Desember 2000-Agustus 2005) dan penasihat mantan presiden Hassan Rouhani, Ali Younesi mengungkap bahwa badan intelijen Israel; Mossad , telah menyusup ke dalam kepemimpinan Iran.

Menurutnya, banyak pejabat senior di Republik Islam Iran telah dikompromikan. “Para pemimpin negara tidak menunjukkan minat pada apa yang terbaik untuk publik dan kehidupan mereka, dan Mossad telah berhasil, dengan bujukan pengaruh dan uang, untuk menembus badan keamanan rezim,” kata Younesi dalam sebuah wawancara dengan situs berita reformis Jamaran yang dikutip Israel Hayom, Rabu (30/6/2021).

Sekarang rezim sibuk menganiaya orang-orang yang setia kepada negara, terutama dari kubu reformis, alih-alih mendeteksi dan menahan para penyusup yang bekerja atas nama Israel. Rezim mendirikan banyak badan intelijen dengan tugas yang tumpang tindih, dengan tujuan untuk melemahkan kementerian intelijen,” katanya.

Analis Geopolitik Timur Tengah dan dosen Hubungan Internasional Universitas Pajajaran (UNPAD) Dina Sulaeman dalam sebuah pernyataan pada Rabu (31/7) mengungkap dugaan kuat kejahatan itu dilakukan oleh Dinas Intelijen Rahasia Israel Mossad.

Dosen Hubungan Internasional Universitas Pajajaran (UNPAD) Dina Sulaeman. Foto:IST

“Asumsi terkuatnya pelakunya adalah Mossad karena karena Israel adalah pihak yang diuntungkan dari tokoh-tokoh yang syahid ini,” ujarnya.

Dina memiliki kekhawatiran insiden itu akan memicu perang regional karena saat dibunuh, Haniyeh merupakan tamu yang diundang menghadiri acara pelantikan presiden terpilih Iran, Masoud Pezeshkian.
“Dampaknya, saya khawatir ini akan memicu perang regional karena dia adalah tamu VVIP di sebuah negara Iran,” ungkapnya.

Melihat bagaimana Hizbullah juga telah bersumpah untuk membalaskan kematian tokoh pentingnya, menurut Dina, aksi saling balas sangat mungkin terjadi.”Sehingga saya pikirkan terjadi serangan balasan baik dari Hizbullah maupun Iran tinggal menunggu waktu,” kata Dina.

Menurut Dina aksi balasan itu harus dilakukan karena jika tidak, Iran dan Hizbullah akan mempertaruhkan hal yang sangat besar yakni penurunan spirit perlawanan terhadap Israel. “Saya pikir pertaruhannya sangat besar seandainya Iran maupun Hizbullah tidak melakukan pembalasan karena berdampak pada spirit perlawanan terhadap Israel,” paparnya.

Kendati demikian, Dina menilai serangan itu tidak dilakukan secara asimetris atau negara melawan negara melainkan melibatkan intelijen rahasia seperti yang dilakukan Israel di Iran dan Lebanon.

Pos terkait