TEHERAN — Pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh, dan pengawalnya telah dimakamkan di Teheran setelah terbunuh dalam serangan yang diduga dilakukan oleh Israel, Selasa (30/7/2024). Upacara pemakaman dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, yang menjadi imam shalat.
Ketegangan regional meningkat setelah Haniyeh dan komandan Hizbullah, Fuad Shukr, dibunuh. Dewan Keamanan PBB segera mengadakan pertemuan darurat untuk membahas situasi ini. “Komunitas internasional harus memilih jalan perdamaian dan keamanan. Jangan biarkan Israel menyeret kita ke dalam jurang,” ujar Feda Abdelhady Nasser, wakil Palestina di PBB dilansir Aljazeera, Kamis (1/8/2024).
Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menyatakan bahwa pembunuhan Haniyeh adalah bukti bahwa Israel berencana memperluas perang di Gaza ke wilayah yang lebih luas.
Di Gaza, dua wartawan Al Jazeera, Ismail al-Ghoul dan Rami al-Rifi, tewas dalam serangan Israel. Hingga kini, perang Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 39.445 orang dan melukai 91.073 lainnya. Di sisi Israel, sekitar 1.139 orang tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober, dan lebih dari 200 orang ditawan.
Warga Palestina di kamp pengungsian Deir el-Balah, Gaza, merasa marah, sedih, dan putus asa setelah mendengar berita pembunuhan Haniyeh di Teheran. “Ismail Haniyeh adalah seorang pemimpin besar, bukan hanya untuk Hamas tetapi untuk seluruh Palestina,” kata Saleh al-Shannat, 67 tahun, yang mengungsi dari Beit Lahiya di utara Gaza.
Al-Shannat mengingat Haniyeh sebagai pemimpin cinta damai yang pernah menjabat sebagai perdana menteri pemerintahan Otoritas Palestina pada 2006. “Rakyat Palestina kehilangan seorang pemimpin hebat,” ujarnya sambil meneteskan air mata.
Melalui pekerjaannya di komite mediasi yang menyelesaikan perselisihan lokal, al-Shannat sering bertemu dengan Haniyeh. “Saya mengenalnya secara pribadi. Dia selalu berusaha melayani rakyat dan kepentingan mereka,” tambahnya.
Israel belum mengakui bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut, meskipun Menteri Warisan Israel, Amichay Eliyahu, merayakan kematian Haniyeh melalui sebuah postingan di X. “Israel hanya mengerti bahasa kekerasan,” kata al-Shannat.





