Situasi di Timur Tengah semakin memanas. Iran melakukan serangan gelombang kedua dengan menggempur Tel Aviv menggunakan drone dan rudal, Sabtu, 14 Juni 2025, dini hari waktu setempat. Untuk memuluskan serangan ke jantung Israel, Iran menutup seluruh wilayah udaranya dan membatalkan semua jadwal penerbangan.
_________
Langit di atas Yerusalem dan Tel Aviv disinari oleh kilatan rudal. Ledakan menggema di seluruh kota, sementara stasiun televisi Israel menayangkan asap tebal yang membubung di atas Tel Aviv. Militer Israel menyatakan bahwa puluhan rudal telah ditembakkan ke wilayahnya dan memerintahkan seluruh penduduk untuk segera berlindung di tempat perlindungan bom.
Menurut laporan media Israel, serangan tersebut menyebabkan sedikitnya 60 orang terluka. Layanan darurat Magen David Adom melaporkan bahwa dua orang tewas di wilayah pesisir akibat tembakan roket yang mengenai area permukiman pada Sabtu pagi.
Seorang wanita berusia sekitar 60 tahun ditemukan tanpa tanda-tanda kehidupan, sementara seorang pria berusia 45 tahun yang sempat dievakuasi dalam kondisi kritis kemudian dinyatakan meninggal dunia.
Sementara itu, Rumah Sakit Beilinson di Tel Aviv mengonfirmasi kematian seorang wanita lainnya akibat serangan rudal, sehingga total korban tewas dari serangan balasan Iran mencapai tiga orang.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memperingatkan akan adanya “hukuman berat” atas tindakan Israel. Sebagai bagian dari respons cepat, Iran juga meluncurkan puluhan drone ke arah Israel. Aksi ini terjadi hanya sehari setelah Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengkritik Iran karena dianggap tidak patuh terhadap kesepakatan nuklir internasional.
Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, menyatakan bahwa Iran telah melampaui “garis merah” dengan menyerang warga sipil secara langsung dan berjanji bahwa Teheran akan “membayar harga yang mahal”.
Seperti diberitakan, serangan Israel pada Jumat dini hari menyasar lebih dari 100 lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz. Menurut pernyataan Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, serangan itu menewaskan sedikitnya 78 orang dan melukai lebih dari 320 lainnya. Sebagian besar korban adalah warga sipil, wanita, dan anak-anak.
“Serangan biadab dan kriminal itu menargetkan para pejabat militer senior dan ilmuwan nuklir,” kata Iravani dalam rapat darurat Dewan Keamanan PBB, seperti dilansir Arab News, Sabtu, 14 Juni 2025.
Militer Israel menyebutkan sekitar 200 pesawat terlibat dalam serangan itu. Selain itu, drone peledak yang sebelumnya berhasil diselundupkan ke Iran juga diaktifkan dari dalam untuk menyerang peluncur rudal di sekitar Teheran. Beberapa sumber mengatakan Israel juga menyelundupkan senjata presisi dan sistem serangan pada kendaraan untuk menyerang dari dalam wilayah Iran.
Natanz yang dikenal sebagai pusat pengayaan uranium Iran menjadi sasaran utama. Asap hitam terlihat mengepul dari lokasi tersebut. Militer Israel mengklaim operasi ini masih berada dalam tahap awal dan akan terus berlanjut.
Brigadir Jenderal Effie Defrin, juru bicara militer Israel, mengatakan bahwa Israel telah merusak Natanz secara signifikan. Selain itu, puluhan instalasi radar dan peluncur rudal permukaan-ke-udara di Iran barat juga telah dihancurkan.
Serangan itu juga menewaskan tiga tokoh penting militer Iran: Jenderal Mohammad Bagheri, Jenderal Hossein Salami, dan Jenderal Amir Ali Hajjizadeh. Ketiganya merupakan figur kunci dalam struktur pertahanan dan program rudal Iran.
Kecaman Global dan Kekhawatiran Regional
Negara-negara Arab langsung mengecam keras serangan Israel. Arab Saudi memimpin seruan penghentian kekerasan dan mendesak deeskalasi segera. Raja Salman bahkan memerintahkan otoritasnya untuk membantu jamaah haji Iran yang terlantar di wilayah Saudi akibat penutupan wilayah udara.
Kementerian Haji dan Umrah telah ditugaskan untuk memastikan para jamaah mendapat tempat tinggal, makanan, dan fasilitas kesehatan yang memadai sampai kondisi memungkinkan untuk kembali ke tanah air.
Di tengah ketegangan, mantan Presiden AS Donald Trump angkat bicara melalui platform Truth Social miliknya. Ia memperingatkan bahwa serangan Israel berikutnya bisa lebih brutal jika Iran tidak segera menyepakati perjanjian terkait program nuklirnya.
“Iran harus membuat kesepakatan, sebelum tidak ada yang tersisa. Selamatkan apa yang dulu dikenal sebagai Kekaisaran Iran,” tulis Trump. “Tidak ada lagi kematian, tidak ada lagi kehancuran, LAKUKAN SAJA, SEBELUM TERLAMBAT.”
Netanyahu Serukan Perlawanan Internal
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan kepada rakyat Iran untuk bangkit melawan pemerintahannya sendiri.
“Sudah tiba saatnya bagi rakyat Iran untuk bersatu di sekitar benderanya dan warisan bersejarahnya, dengan membela kebebasan Anda dari rezim jahat dan penindas,” ujar Netanyahu dalam pernyataan video, menyebut operasi ini sebagai “salah satu yang terbesar dalam sejarah militer Israel.”
Pernyataan itu disampaikan setelah Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 200 lokasi militer dan nuklir di Iran.
Namun, seruan Netanyahu tidak lepas dari kritik. Para pejabat di Washington memperingatkan Israel agar tidak memperluas serangan selama negosiasi mengenai program nuklir Iran masih berlangsung. Mereka juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak terlibat langsung dan meminta agar Iran tidak menyerang kepentingan atau personel AS.
Sebelumnya, AS telah menarik sebagian diplomatnya dari Baghdad dan menawarkan evakuasi sukarela bagi keluarga pasukan AS di kawasan Timur Tengah yang lebih luas—langkah antisipasi jika konflik memburuk dan meluas lebih jauh dari sekadar Israel-Iran.***





