Sebanyak 17 tabung CNG diuji secara terbatas di lingkungan Lemigas. Pemerintah belum menetapkan harga, skema subsidi, ataupun jadwal distribusi nasional.
Pemerintah mulai menguji penggunaan langsung tabung gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) 3 kilogram kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah di lingkungan Lemigas.
Uji coba dilakukan selama satu bulan untuk menilai kinerja tabung sekaligus pengalaman pengguna. Hasil evaluasinya ditargetkan tersedia pada September 2026.
“September ini kami akan dapatkan hasil evaluasi, bukan hanya dari sisi kinerja tabung, melainkan juga dari sisi bagaimana dimanfaatkan oleh masyarakat,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Laode Sulaeman di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Menurut Laode, pengguna dalam uji coba masih terbatas pada lingkungan internal Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi atau Lemigas. Salah satunya ialah pelaku UMKM yang beroperasi di kantin lembaga tersebut.
Tahap ini berbeda dengan pengujian sebelumnya yang berfokus pada ketahanan tabung dan komponen teknis. Pemerintah belum menyatakan CNG 3 kilogram siap diedarkan kepada masyarakat luas.
“Kalau kemarin kami masih uji coba tahapan tabung dan lain-lain, sekarang kami sedang siapkan untuk digunakan dan dievaluasi selama satu bulan,” ujar Laode.
Tekanan Lebih Tinggi daripada LPG
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan aspek teknis menjadi tantangan utama karena CNG disimpan dengan tekanan sekitar 200–250 bar. Tekanan LPG berada pada kisaran 5–10 bar.
Perbedaan tersebut membuat keamanan tabung, katup, regulator, fasilitas pengisian, serta cara penggunaannya perlu diuji sebelum program diperluas.
Pada tahapan sebelumnya, Lemigas menguji tabung dan katup CNG, termasuk ketahanannya terhadap kondisi ekstrem. Sebanyak 17 tabung dilaporkan menjalani pengujian tahap ketiga di fasilitas tersebut.
Perangkat CNG 3 kilogram juga diarahkan menggunakan sistem pasang dan pakai. Pemerintah menginginkan konsumen tetap dapat menggunakan kompor LPG dengan tambahan katup atau konverter yang sesuai.
Namun, pemerintah belum mengumumkan standar akhir perangkat, mekanisme pengisian ulang, ataupun prosedur penanganan apabila terjadi kebocoran.
Harga dan Subsidi Belum Ditentukan
CNG 3 kilogram disiapkan sebagai alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor. Bahan bakunya berasal dari gas bumi domestik yang selama ini juga telah digunakan oleh hotel, restoran, kafe, dan sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis.
Penggunaan CNG pada sektor tersebut umumnya masih memakai tabung berkapasitas lebih dari 10–20 kilogram. Tantangan pemerintah ialah membuat kemasan 3 kilogram yang aman dan praktis bagi konsumen rumah tangga maupun UMKM.
Meski demikian, belum ada keputusan mengenai harga jual CNG 3 kilogram, wilayah distribusi, jumlah tabung yang akan diproduksi, ataupun jadwal peluncurannya secara nasional.
Skema subsidi juga belum ditetapkan. Pemerintah belum menjelaskan apakah CNG akan memperoleh subsidi seperti LPG 3 kilogram atau dijual dengan harga keekonomian.
Kelayakan program turut bergantung pada biaya produksi tabung, konverter, pengangkutan gas, fasilitas pengisian, dan jaringan distribusi. Pemerintah juga belum memastikan apakah penyalurannya akan menggunakan pangkalan LPG atau membangun jaringan tersendiri.
Bahlil mengatakan pengembangan tabung berukuran kecil membutuhkan pengujian berulang karena tekanan CNG jauh lebih tinggi dibandingkan LPG.
“Kami terus mengkaji penggunaan CNG sebagai alternatif pengganti LPG tabung 3 kilogram guna mengurangi ketergantungan impor energi,” kata Bahlil.***





