Anwar, seorang pengungsi di Khan Younis, berharap bisa kembali ke Rafah meski rumahnya hancur. “Saya akan mencari tempat untuk mendirikan tenda bagi keluarga saya yang beranggotakan delapan orang,” katanya.
“Perang ini seperti mimpi buruk. Kami hidup dalam ketakutan tanpa cukup makanan atau air, sementara harga-harga melambung tinggi,” lanjutnya.
Nour Saqqa, warga Gaza yang mengungsi ke Rafah, mengatakan bahwa meski lega, ia masih diliputi kecemasan. “Gencatan senjata ini diumumkan secara bertahap, bukan sekaligus, sehingga kami belum sepenuhnya bisa merasa aman,” katanya.
Ia menambahkan bahwa pembatasan akses ke Kota Gaza memperburuk tekanan psikologis yang dialami penduduk.***





