Gaya ‘Nyentrik’ Menkeu Baru: Dari Kritik MBG hingga Pernah Sebut IMF ‘Tidak Pintar’

Ilustrasi. - Sora/Samudrafakta
Dalam hitungan hari usai dilantik, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa ‘bikin gempar’ Ia mengkritik program andalan Presiden Prabowo, makan bergizi gratis alias MBG, bahkan pernah menyebut IMF “bodoh”.

__________

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sepertinya tak butuh waktu lama untuk ‘menunjukkan tajinya’. Hanya beberapa hari pasca-pelantikan, ia sudah melayangkan kritik pedas ke dua arah: program andalan Presiden Prabowo, Makan Bergizi Gratis (MBG), dan lembaga keuangan dunia sekelas International Monetary Fund (IMF).

Kritik Tajam untuk Program Andalan Presiden

Dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Rabu, 10 September 2025, Purbaya menyoroti serapan anggaran MBG. Dari Rp71 triliun yang digelontorkan, kata dia, baru Rp13,2 triliun yang benar-benar terserap. Baginya, ini tanda ada yang salah.

Bacaan Lainnya

“Di government side, saya akan pastikan belanja-belanja yang lambat berjalan dengan lebih baik lagi. Ada yang komplain, MBG penyerapannya rendah. Saya tanya teman-teman keuangan, katanya bagus, tapi ternyata enggak. Jelek,” ujarnya.

Purbaya menuntut transparansi penuh hingga ke level “piring anak-anak”. Ia mengusulkan agar ada jumpa pers bulanan, supaya publik bisa mengawasi langsung ke mana uang negara mengalir. Tidak boleh ada “uang hantu” yang menguap tanpa jejak, katanya.

Ia juga berjanji bakal menyisir program pemerintah lain yang punya serapan lambat. “Kami akan kirim orang ke sana supaya jalannya cepat dan kita akan monitor secara reguler,” katanya.

BGN Pasang Target Tinggi

Di sisi lain, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana punya versi lain. Ia menyebut serapan 18,6 persen itu justru sudah melebihi target Agustus—yang hanya Rp9,1 triliun.

Data BGN menunjukkan, menurut Dadan, hingga 8 September 2025, sudah ada 22 juta penerima manfaat dengan 7.453 dapur layanan atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Jumlah itu dia klaim melampaui target awal 7.000 titik.

Namun, pekerjaan rumah masih besar. Pada September ini, BGN menargetkan 14.000 SPPG yang melayani 42 juta penerima manfaat. Jika tiap SPPG bisa menyerap Rp1 miliar per bulan, maka dalam sebulan bisa mengalir Rp14 triliun.

Pos terkait