Menyusul kematian presiden pertama Israel, Chaim Weizmann, pada tahun 1952, pemerintah Israel, yang saat itu dipimpin oleh Perdana Menteri David Ben-Gurion, menawarkan jabatan presiden kepada Einstein. Namun, Einstein menolak dengan tegas. Ia muak dengan kekerasan yang terjadi menjelang kelahiran Isreal yang memakan banyak korban.
Awalnya Perdana Menteri David Ben-Gurion menyodorkan jabatan ini. Namun, baik Einstein ataupun Ben-Gurion sama-sama tak cukup antusias akan hal ini. Einstein menganggap tawaran ini aneh. Ben-Gurion pun bercanda kepada seorang asisten, “Saya harus menawarkan jabatan ini kepadanya karena tidak mungkin tidak melakukannya. Meski begitu, jika dia menerimanya, maka kita berada dalam masalah.”
Dikatakan dalam Encyclopaedia Britannica, Einstein tidak mengiyakan pertemuan resmi dengan perwakilan kedutaan Israel kala itu, Abba Eban.
Abba Eban bersikeras membujuk Einstein dan mengiriminya surat atas nama Ben-Gurion.
Tawaran Eban menekankan kekaguman orang Israel kepada Einstein dan mendesaknya untuk mempertimbangkan potensi intelektual dan spiritual bangsa tersebut. Surat itu juga meyakinkan si jenius bahwa dia bisa bebas terlibat dalam penelitian ilmiah ketika menjadi presiden. Dikatakan dalam suratnya juga, untuk menerima posisi tersebut maka Einstein yang tinggal di Princeton, New Jersey, harus pindah ke Israel. “Israel adalah negara kecil dalam dimensi fisiknya, namun bisa mencapai tingkat kebesaran,” tulis Eban.
Menanggapi tawaran ini, Einstein membalas dengan jawaban singkat dan ramah. Dia menghargai penawaran tersebut dan menyorot hubungan emosional yang kuat dengan orang Yahudi. Dia menyampaikan penolakannya disebabkan oleh kekurangan pribadi, seperti kurangnya keterampilan yang relevan dan usia yang sudah lanjut.
“Saya tidak memiliki bakat alami dan pengalaman untuk berurusan dengan orang lain dengan baik,” tulis Einstein dalam suratnya, seperti dikutip dari Britannica.





