Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menilai, saat ini banyak fenomena penceramah yang menjadikan agama sebagai bahan hiburan atau entertainment, namun materi seperti itu justru digandrungi banyak masyarakat.
Padahal, menurutnya, ceramah yang terlalu banyak bercandanya membuat jemaah tak bisa maju secara intelektual maupun emosional.
Haedar Nashir menyampaikan pandangannya tersebut kala menghadiri acara pelantikan Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya, Senin, 9 Desember 2024.
Pada kesempatan itu, Haedar juga menyinggung polemik yang sedang viral diperbincangkan oleh masyarakat Indonesia belakangan ini, seperti kasus penceramah Miftah Maulana Habiburahman yang dinilai publik mengolok-olok penjual es teh, dengan dalih bercanda.
“Agama sekarang, kan, jadi entertainment, iya. Tapi, masyarakat kita juga suka yang gitu. Susah, kan?” katanya.
Haedar mengaku prihatin dengan kecenderungan masyarakat yang seperti itu.
“Coba kalau Pak Syafiq dakwah, pidato, enggak didengar. Padahal isinya ‘daging’ semua,” kata Haedar. Dia merujuk pada Ketua PP Muhammadiyah periode 2022-2027 dan Guru Besar Fakultas Adab Bidang Sejarah Kebudayaan Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya, Syafiq Mughni, yang biasa menyampaikan kajian ilmiah.
Menurut Haedar, kecenderungan publik tertarik pada ceramah yang banyak bercandanya tidak akan membuat pendengarnya maju secara keilmuan atau pemahaman.
Maka dari itu, Haedar berharap masyarakat bisa lebih menghargai ceramah yang mengandung keilmuan dan memperdalam pemahaman agama, bukan sekadar menomorsatukan hiburan.
Haedar juga menekankan pentingnya melakukan amar ma’ruf nahi munkar, atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, dengan pendekatan yang lebih holistik dan bijaksana.
Perlukah Sertifikasi Dai?
Sebelumnya, anggota DPR RI Maman Imanul Haq mendesak agar Kementerian Agama (Kemenag) memperketat regulasi sertifikasi pendakwah atau dai—menyusul viralnya peristiwa Miftah.
Usulan tersebut dia sampaikan dalam rapat kerja dengan Menteri Agama pada Rabu, 4 Desember 2024. Ketika itu Maman menyampaikan, sertifikasi dai menjadi hal yang sangat penting untuk memastikan dakwah disampaikan dengan referensi yang benar, berdasarkan Al-Quran, hadits, serta nilai-nilai agama yang sahih.





