Ini, kata dia, menunjukkan bahwa perokok aktif atau kronis cenderung memiliki probabilitas anak-anak pendek atau kerdil. Artinya, penelitian ini menegaskan adanya bukti kuat dan konsisten secara statistik bahwa anak yang memiliki orang tua perokok kronis memiliki probabilitas stunting 5.5 persen lebih tinggi dibandingkan anak dari orang tua bukan perokok.
Selain itu, Teguh menambahkan, stunting akan menyebabkan penurunan kecerdasan atau kognitif anak. Penelitian PKJS juga menyebut bahwa peningkatan pengeluaran rokok sebesar 1 persen akan meningkatkan probabilitas rumah tangga menjadi miskin hingga 6 persen.
Temuan PKJS-UI ini membangun narasi bahwa mengendalikan konsumsi rokok tidak hanya akan mengurangi prevalensi perokok, tetapi juga akan membuat masa depan Indonesia lebih baik dengan menekan stunting; menjaga anak-anak lahir dengan kondisi yang baik, fisik, dan kognitif.
Apakah benar demikian faktanya? Sebentar. Sebagai pembanding, mari kita simak penjelasan Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Universitas Brawijaya (UB) Malang Prof. Candra Fajri Ananda, yang disampaikan secara tertulis pada Ahad, 19 November 2023.
Dikutip dari bisnis.com, Candra mengatakan bahwa, menurut penelitian terbaru yang dilakukan Tim Peneliti PPKE, konsumsi rokok orang tua bukan faktor utama penyebab terjadinya stunting di Indonesia. Variabel orang tua perokok, kata Candra, hanya memiliki kontribusi 0,7 persen terhadap terjadinya kasus tengkes.
“Hasil kajian PPKE UB pada stunting menunjukkan bahwa variabel tinggi badan orang tua, pendidikan, pendapatan, dan lahir badan cukup bulan lah yang justru berpengaruh signifikan dalam menurunkan (melahirkan—red) balita stunting,” kata Candra dalam keterangan tertulisnya.





