Cara Ekstrem Menjadi Cantik: Mulai dari Oleskan Keringat Gladiator hingga Dua Tahun Mengikat Kaki

Upaya orang-orang untuk tampil cantik dan menarik sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu. Dan banyak sekali praktik-praktik mengejutkan di masa lalu yang dilakukan kaum perempuan demi mendapatkan kecantikan. Kadang tidak masuk akal, tetapi itu benar-benar dilakukan. Benar-benar ada.

Apa saja itu?

Krim Wajah dari Keringat Gladiator Romawi

Romawi kuno dikenal sebagai bangsa yang sangat mencintai kemewahan dan kesenangan, terutama golongan wanita kayanya. Saking kepincutnya pada kemewahan, kadang mereka melakukan hal-hal ‘gila’ demi mendapatkan sesuatu yang tidak bisa didapatkan orang pada umumnya. Termasuk dalam hal usaha untuk bisa cantik.

Salah satu tren kecantikan wanita kaya pada masa itu adalah menggunakan keringat gladiator untuk perawatan wajah. Ya, Anda tidak salah baca: keringat gladiator!

Bacaan Lainnya

Perawatan ini mereka percayai dapat memperbaiki warna dan menjaga keremajaan kulit. Keringat para gladiator yang sukses—atau yang sering memenangkan pertandingan—dianggap sebagai afrodisiak, atau semacam herbal untuk meningkatkan sensualitas sekaligus gairah seksual, yang sangat manjur.

Gladiator. Keringat mereka dipercaya bisa menjadikan wajah perempuan kencang dan awet muda di zaman Romawi Kuno. (Ilustrasi)

Di Roma Kuno, gladiator dihormati masyarakat karena kehebatan fisik dan keterampilan bertarung mereka. Orang Romawi masa lalu juga percaya bahwa semakin sukses seorang gladiator di arena laga, maka cairan yang keluar dari tubuh mereka, seperti keringat, mempunyai pengaruh yang sangat kuat untuk orang lain. Maka dari itulah orang Romawi Kuno percaya, dengan mengusapkan cairan gladiator ke tubuh seseorang, maka kesuksesan sang gladiator bisa menular pada orang yang diusap itu.

Tidak diketahui secara pasti bagaimana atau kapan tren ini dimulai. Namun, fakta sejarah Romawi mencatat bahwa wanita kaya raya di Romawi Kuno mencari keringat para gladiator ini.

Keringat yang keluar dari tubuh gladiator dikumpulkan menggunakan alat bernama strigil. Alat ini digunakan untuk mengikis kotoran, keringat, dan minyak. Atau, dalam bahasa sederhana, keringat gladiator itu disuling. Kadang keringat yang sudah disuling itu dicampur minyak zaitun. Setelah itu dijual sebagai krim wajah kepada wanita kaya di Roma.

Tak hanya keringat, darah gladiator juga diyakini bisa menjadi komoditas populer lainnya pada masa itu. Beberapa sejarawan melaporkan bahwa darah gladiator yang terluka atau terbunuh biasanya dicampur dengan anggur dan diminum.

Gigi Menghitam di Jepang Kuno

Menghitamnya gigi barangkali tampak menakutkan dan aneh bagi sebagian orang masa kini. Tapi, praktik ini pernah dilakukan orang Jepang dan menjadi salah satu fakta sejarah kecantikan dunia di masa lampau.

Para arkeolog menemukan bahwa selama ratusan tahun wanita Jepang mewarnai giginya hingga menjadi hitam dengan zat yang disebut kanemizu. Larutan tersebut dibuat dari campuran logam, seperti serbuk besi, lalu dikombinasikan dengan cuka dan tanin yang berasal dari sayuran atau teh tertentu.

Menghitamkan gigi ini, menurut para sejarawan, kemungkinan besar awalnya bertujuan untuk melindungi email gigi dan mengatasi masalah kebersihan mulut lainnya, seperti penyakit gusi. Namun, pada perkembangannya, menghitamnya gigi, yang disebut ohaguro, malah dianggap memikat dan indah. Biasanya dilakukan oleh wanita berusia di atas 18 tahun, sebagai penanda kedewasaan.

Selain sebagai penanda pubertas, praktik ini juga dilakukan untuk memunculkan daya tarik kecantikan, juga disepakati sebagai mode, sehingga menjadikannya tren yang menarik di zaman tersebut.

Tradisi ohaguro atau menghitamkan gigi di Jepang. (Kaskus)

Ohaguro dilarang oleh pemerintah Meiji Jepang pada tahun 1870. Namun, budaya ini muncul kembali di zaman modern, terutama di beberapa daerah pedesaan di Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Meskipun praktik ini lebih umum terjadi di kalangan wanita berusia lanjut, namun beberapa wanita muda diketahui juga masih melakukannya.

Kebiasaan ini hampir hilang setelah dunia Barat memperkenalkan ‘standar kecantikan’ pada era kolonial. Namun demikian, praktik ini terus dilakukan oleh kalangan minoritas di Tiongkok, Kepulauan Pasifik, dan Asia Tenggara.

Pos terkait